selamat ulang tahun, sayang :*

Kepada pemilik nama dimana kesayangan dan kecintaanku menemukan tuannya.

Kamu orangnya. Tuan dari segala penghambaan perasaanku. Jadi kamu orangnya. Sosok yang sedari dulu kutunggu-tunggu. Sebab kamu, segala resahku luluh lantak diderap rasa bahagia. Sebab kamulah orangnya, penemu rasa kelima yang tak bisa dicecap indera perasa. Di hidupku, hadirmu membuatku sempurna.

Kamu pemberi hangat di sela jemari. Pengisi kosong di rentangnya. Kamu raja di singgasana pelukku. Pemilik utuh kediaman rindu. Kamu candu yang mengalir di darahku. Mengisi palung jantungku dengan segalamu. Denyut yang membahagiakanku. Kamu bau yang menempati paru-paru. Menghangatkan rongga dadaku. Kamu penghuni kotak hati, pemilik kunci altar terbaikku.

Demikianlah Tuhan menghadirkanmu tepat hari ini tiga puluh tahun yang lalu. Diam-diam kuselipkan syukur atas lahirmu, juga atas hadirmu di hidupku. Kemudian aku ingin kamu tahu beberapa hal penting tentangmu di hari yang istimewa ini.

Pertama, aku mencintaimu.

Kedua dan seterusnya jaga kesehatanmu, berbahagialah selalu, dan teruslah bersamaku. Sebab setelah kamu, kini satu-satunya kata yang paling berharga untukku adalah kita. Setidaknya tak ada yang istimewa di dunia ini selain cerita yang sudah kita jalani, tidak puisi-puisi favoritku, pun tidak kata-kata indah kesukaanku, karena tak mungkin ada puisi dan kata-kata selain puja yang tertuju pada kita. Terus semangat selesaikan kuliahmu. Tambah lagi jam tidur di malammu, kalau tidak akan kukudeta pertandingan-pertandingan bola kegemaranmu.

Pada akhirnya segala yang terbaik untukmu menjadi doaku.

Selamat ulang tahun, sayang.

Peluk erat,

Aku.

cupu!


jatuh cinta di luar angkasa

Kepada pencipta lagu yang sedang kudengarkan,

Jadi bagaimana kabarmu di luar angkasa?

Dari bumi, kukirimkan surat ini. Aku hanya ingin bercerita bahwa bumi memang bukan tempat yang menyenangkan untuk jatuh cinta. Jatuh cinta disini seringkali membuatku lebam sampai ke dada. Mungkin karena gravitasinya. Atau karena seringkali aku jatuh dan mendarat pada tumpuan yang salah. Yang pada akhirnya sering membuatku berpikir, bagaimana kalau aku jatuh cinta di luar angkasa saja.

Kedua tanganku sekarang membiru. Mungkin sebentar lagi beku. Seandainya telingaku bisa turut biru dan nantinya bisa cukup beku untuk tuli pada suara-suara di atas bumi ini, tidak perlu aku membayangkan bagaimana hidupmu disana. Di luar angkasa tidak ada makhluk bumi, kan? Sekuat apapun makhluk-makhluk disini berteriak, suaranya tak sampai kesana, kan? Sepengetahuanku di luar angkasa kedap suara. Jadi, aku tidak perlu sibuk menutup telinga. Mungkin karena jatuh cinta di bumi dirayakan semesta. Segala makhluk berhak turut suara menyambutnya.  Belum lagi benar-benar jatuh cinta, sudah banyak hati yang harus kujaga. Padahal menjaga hatiku agar baik-baik saja aku masih tertatih. Bagaimana mungkin aku harus menjaga semuanya. Demikianlah aku mulai lelah.

Jika memang memungkinkan, boleh tidak aku menyusulmu saja? Aku ingin tahu bagaimana rasanya bercinta di luar angkasa. Jatuh lalu melayang-layang tak perlu takut benturan. Tak perlu melawan gravitasi yang selalu mengikat kaki agar jejak ke bumi. Tak perlu menghiraukan suara-suara makhluk bumi, membesar-besarkan hati agar cukup menampung segala reaksi. Aku ingin tahu bagaimana merayakan cinta lalu membias di udara. Meledakkan semua rasa tanpa harus membuat siapapun tutup telinga. Meneriakkan semua kata tanpa harus takut ada yang terluka. Aku ingin jatuh cinta sebebas-bebasnya.

“Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa. Seperti takkan pernah pulang kau membias di udara dan terhempaskan cahaya. Seperti takkan pernah pulang langkahmu menari jauh memutar.”

Karena kau di angkasa, bertetangga dengan bintang, kan? Kabar-kabari kalau salah satu dari mereka ada yang jatuh. Ada doa yang mau kulafalkan. Kalau tidak, kutitipkan saja doaku padamu, tolong lafalkan sesegera bintang jatuh. Aku ingin jatuh cinta tanpa resah, sesederhana itu.

Sisakan sedikit angkasa untukku, ya. Setidaknya seluas lirik yang kautulis. Selamat bercinta!

Menyuratimu dengan lirih,

Aku.


mengosongkan kotak perjalanan

Kepadamu,

Entah kita sudah bertemu atau belum, bagaimana rasanya perjalananmu menemukanku? Kuharap kamu bisa menikmatinya dengan baik. Meskipun menunggumu juga bukan cerita yang menyenangkan untuk kututurkan. Mungkin kita harus memulai cerita kita dengan membuang semua cerita itu.

Aku sedang berusaha membuang semua benda yang ada di kotak perjalananku, satu persatu. Kulakukan satu-persatu sebab untuk membuang semuanya sekaligus membuatku ketakutan pada ledakan psikologis yang mungkin mereka timbulkan. Kupikir, lebih baik kulakukan ini sendirian, tanpamu, agar nanti ketika kita bertemu tidak ada lagi benda-benda dari masa lalu yang masuk ke kotak baruku denganmu. Agar nanti ketika kita bertemu, kotak perjalananku benar-benar kosong dan seluruhnya diisi kamu.

Isi kotak perjalanan masing-masing aku dan kamu mungkin seberharga sejarah peradaban. Mungkin dengan itu, mudah bagi kita mengulang detik-detik bahagia yang pernah masing-masing kita punya. Tapi, seberharga apapun itu, kita sepakat saat itu sudah lewat. Menurutku, tak akan pernah ada kita di dalamnya. Jadi untuk apa tetap dijaga?

Kuharap kamu juga mulai mengosongkan kotak perjalananmu. Seperih apapun membuang isinya, lakukan saja. Karena nanti perihmu akan kubasuh bahagia. Aku tidak ingin kita seperti sepasang cangkir dengan isi yang belum lagi tandas. Apa mungkin dengan cerita baru, dahaga kita bisa lepas?

Jadi, sampai bertemu dengan kotak perjalanan yang sudah kosong, pujaanku.

Jaga hatimu baik-baik.

Menyuratimu dengan rindu,

Aku.

kotak perjalanan


buat aku jatuh cinta dong, Nias.

Hai, Nias!

Dengan tampang mutung, jelek, dahi mengkerut dan mood yang berantakan, kutuliskan surat ini untukmu. Sejujurnya, menuliskan surat dengan perasaan tak enak seperti ini tidak menyenangkan. Seperti dada sesak. Gelisah. Dan barisan kata-kata puitis yang manis menjadi sesuatu yang tak ada menarik-menariknya lagi.

Baiklah. Kita ulangi kalimat pembukanya.

Hallo, Nias!

Bagaimana tepian pantaimu hari ini? Masih sebiru-memukau-mata seperti pertama kali aku menyadari keindahanmu-kah? Semoga. Sebab dengan cara apalagi aku bisa mencoba mencintaimu selain dengan moleknya pantaimu.

Baru semalam kukirimkan secarik sms pendek pada lelaki yang kupikir mampu membuatku betah di tanahmu, lebih kurang begini bunyinya:

“kenapa sik banyak banget hal yg nyebelin di nias ini, bang?”

Berharap mendapatkan balasan wah, seperti misalnya pemberian tiket pesawat jet Manunggal pp Nias-Medan, atau setidaknya ajakan tamasya keliling pulau ini sepanjang tahun, atau kalau tidak hadiah atas penghiburan seperti sepeda fixie, kamera slr, segudang buku dan film, atau apapun lah yang bisa mengurangi nestapa di dada. Aih! Tapi tidak. Balasan pertanyaanku yang sederhana itu hanya pertanyaan lagi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan yang dibalas dengan pertanyaan. Hanya saja, pertanyaan di kepalaku sudah terlalu banyak. Ditambah pertanyaan lagi, aku engap.

Jadi, Nias. Perkenalkan sebelumnya. Aku penghuni baru di atas tanahmu. Kalau sekarang ditanya, jujur, aku masih belum bisa jatuh cinta padamu. Masih belum, sebab aku akan mengusahakannya. Bagaimanapun aku harus. Aku tidak mungkin terus-terusan melebamkan hati atas semua yang kualami disini. Tentang sinyal yang keterlaluan timbul-tenggelamnya. Tentang harga kebutuhan hidup yang lebih tinggi dari biasanya. Tentang kekhawatiran dan nasihat-nasihat orangtua yang membebani pikiran. Tentang hal-hal remeh yang mungkin belum lagi bisa kubiasakan. Semuanya membebat seperti tak ingin sedikitpun memberiku rehat.

Kedengarannya egois kalau aku memaksamu membuatku jatuh cinta. Tapi boleh tidak kalau iya? Aku ingin jatuh cinta padamu, tapi bagaimana caranya? Atau setidaknya apa yang harus kulakukan agar aku menemukan rasa itu?

Baiklah. Perihal lelaki yang kupikir mampu membuatku betah, nanti kita bicarakan lagi. Aku mau lebih konsen jatuh cinta padamu dulu.

Rangkul hangat penghuni baru,

Aku.

lahewa, nias utara


surat yang terlambat dikirim

Kepada Zi,

Suatu hari sebuah lagu mampir di ruang telingaku. Sebuah lagu yang tiba-tiba membuat salah satu organ di tubuhku, entah itu hati, entah itu otak, entah itu hanya segelintir zat kimia dalam tubuh yang membuatku mengingatmu dengan berlebihan. Sebuah lagu yang pada akhirnya membuat orang-orang berpikir bahwa lagu itulah kesukaanku, padahal ia kecintaanmu dulu. Kemudian adegan bahagia terputar berulang-ulang. Seketika dopamine fiksi kusesap dari udara.

Waktu terlalu cepat berlalu untuk kehilangan yang tak pernah indah untuk dikenang. Demikanlah hari-hari habis setelah kita berhenti untuk saling berbagi kebahagiaan. Aku memintamu untuk menyudahi apa-apa yang kupikir belum lagi kita mulai. Di titik ini aku menyesal. Aku belum tahu rasanya bertengkar denganmu. Belum tahu bagaimana meredakan emosimu. Atau menyelesaikan prahara yang bisa terjadi pada kita kapan saja. Kita masih menikmati gulali yang jatuh dari langit saat itu. Belum lagi sakit gigi dibuatnya.

Bagaimanapun mungkin karena kamu yang pertama. Masa merelakan kehilangan adalah perayaan takdir dengan leluconnya yang satir. Aku sadar ada banyak mata dan pikiran yang memojokkanku di bagian ini. Bahkan mungkin aku dianggap memercik api. Meminta murka dari pemilik hatimu yang sekarang sudah nyata, istrimu.

Aku belajar berdamai dengan kehilangan. Aku akan menghargai diskusi jika suatu hari aku jatuh cinta lagi. Tidak akan kubiarkan kisahku denganmu ditulis ulang.

Demikianlah hal-hal tentangmu semakin samar. Begitupun dengan  perasaan. Jika suatu hari aku mengenangmu lagi, percayalah tidak akan pernah ada lagi keinginan untuk memiliki. Aku masih memiliki mimpi selain masa lalu yang memenuhi hati. Sebab waktu mengajarkanku pelan-pelan, memang bukan kau yang kuingin jadi Tuan.

dengan kebahagiaan yang turut serta dalam doa pernikahanmu,

mantanmu.


perempuan dengan bangkai kupu-kupu di tangan

Kepada perempuan dengan bangkai kupu-kupu di tangan,

Hujan masih bersisa di halaman belakang kantorku ketika kutuliskan secarik surat ini untukmu. Masih kudengar jelas jejak-jejak gemuruh di langit. Menggeram seperti marah yang dipaksa redam. Dari ujung atap cucuran air berlomba-lomba menuju tanah. Nada mereka terburu-buru namun tetap merdu. Lalu kusesap pula bau tanah yang basah. Kadar air meninggi di udara. Kuhirup dalam-dalam untuk menenangkan pikiran.  Besar harapanku, segala kata yang kukumpulkan disini mampu pula kau terima dengan lapang dada.

Salam kenal,

Maap jika kedatangan surat ini membuatmu mengernyitkan dahi. Atau mungkin sebelum membaca isinya, sebelum menelaah kata-kataku, saat kautemui amplop dengan nama pengirimnya berupa namaku, jantungmu berdetak dengan tak beraturan.

Iya. Ini aku. Perempuan yang (mungkin) membuat kupu-kupu di perutmu sudah berubah jadi bangkai.

Apa kabar?

Semoga surat ini mampu menjelaskan kepadamu bahwa sejujurnya aku tidak pernah ingin masuk ke kehidupanmu. Kalaupun pada akhirnya aku harus masuk, aku tidak ingin kau harus pergi tanpa penyelesaian. Kita sama-sama perempuan dan tentu saja aku harus menjaga perasaanmu. Jadi, agar aku tahu bagian mana yang harus kujaga, maukah kau mendengarkan penjelasanku lalu turut pula memberikan penjelasan setelahnya?

Laki-laki itu hadir di hariku baru-baru ini. Tanpa kuminta, dia memberikan perhatian lebih padaku. Dia menyelamatkan pagiku yang gagu dengan hangatnya semangat. Dia mengisi siangku dengan keriangan. Dan menutup malamku yang kosong dengan pengharapan, bahwa hari esok akan kami jalani dengan lebih baik. Akan ada cerita-cerita baru, akan ada tamasya setiap minggu, dengan sosok dewasanya yang siap membimbing kekanak-kanakanku.

Demikianlah aku mengenalnya dengan manis hingga suatu hari sampai padaku sebuah cerita tentang perempuan dengan bangkai kupu-kupu di tangan. Orang-orang bilang laki-laki yang baru kukenal itu pernah menanam kupu-kupu di perutmu. Jadi, apakah benar bangkai di tanganmu itu adalah kupu-kupu darinya?

Sebab aku perempuan. Aku tahu rasanya memakamkan perasaan. Karena dia masih belum mampu membawakan kupu-kupu yang sama di perutku, kupikir aku bisa mendengarkan ceritamu terlebih dahulu. Ceritakanlah perihal bangkai kupu-kupu di tanganmu. Agar dengan tenang bisa kuputuskan lahan hati sebelah mana yang akan kuberikan pada laki-laki itu.

Sebab kita perempuan. Sebelum berakhir patah, bukankah sebaiknya berhati-hati untuk tidak jatuh, kan?

 menyuratimu dengan kerudung hitam,

aku.


dear dian @pranestiputri sastro & mariana @omikchu renata

Kepada Dian Sastro dan Mariana Renata,

Apa kabar, cantik? Kangen ih.

Awalnya dulu kupikir kalian adalah tipikal anak-anak Jawa yang terbiasa berbicara dan bergaul hanya dengan mereka yang sealiran saja. Sebagai pribadi yang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika, sejujurnya aku enggan dengan kebiasaan seperti itu. Bukannya ngeles karena tak punya satu bahasa daerahpun yang dikuasai, bukan, ini cuma masalah selera. Tapi ternyata, kalian beda.

Dian Sastro. Kau perempuan Jawa tergalak yang pernah kutemui. Baiklah, aku mengakui. Kau Bataknya Jawa. Dengan kepiawaianmu merangkai kata, merajut canda, menebar tawa di jalinan pertemanan kita, aku mengagumimu. Kau juga pribadi yang mengayomi, mungkin faktor umur diantara kita sih.. Tapi tetap, sebagai sosialita di kancah Ibukota khususnya daerah Kemayoran sekitarnya, kau juara.

Mariana Renata. Kau perempuan Jogja terkocak yang pernah kukenal. Aku juga mau mengakui, aku penggemar nomor satu gambar-gambar buatanmu. Diasah sedikit lagi kupikir lalabohang juga lewat kaubuat. Darimana kreativitasmu bermula? Seringkali tak terpikirkan dan mengejutkan. Mungkin karena kelucuanmu, kadang aku berpikir diantara kita bertiga kaulah si bungsu.

Suatu pagi, beberapa jam sebelum pesawatku terbang meninggalkan ibukota, sms dari Dian sampai di layar henponku. Dian bilang sampai jumpa dan jaga diri baik-baik sebab pasti akan ada piknik lagi di antara kita. Di titik itu aku menyadari, kebahagiaan di akhir minggu bersama kalian akhirnya harus disudahi. Kemudian tanda mula untuk rindu terhujam di dadaku. Ternyata kehilangan itu nyata.

Mungkin surat ini terlihat berlebihan di mata kalian. Aku cuma mau minta maap atas janji yang mungkin belum kupenuhi.  Maap untuk semua tingkah yang mungkin sering membuat kalian jengah. Maap untuk semua kekuranganku di sepanjang perjalanan kita. Aku juga mau bilang terima kasih sudah menoreh warna-warna cerah di kanvas kehidupanku di ibukota. Terima kasih untuk semua tawa yang kita cipta. Terima kasih untuk penat yang kita bagi di taman-taman kota. Terima kasih untuk menjadi Dian Sastro dan Mariana Renata terbaik yang pernah kueja dengan mudah namanya. Terima kasih sudah lahir di dunia. Mungkin, jika tidak ada kalian, piknik dan bersenang-senang di taman hanya khayalan. Sementara di sini, masih belum kutemukan teman bertamasya sesempurna kalian.

Aku cuma mau bilang. Aku kangen. Jadi, kapan kita piknik lagi?

 

 

Sesenggukan manis di balik keranjang,

Aprilia Apsari.

piknikasik