dear ay @nels89

Hai, Ay.

Apa kabar?

Basa-basi macam apa aku barusan. Ish!

Tapi kupikir wajar kalau kutanya kabarmu, Ay. Aku mengabulkan apa yang dikata orang-orang. Perihal kesayangan yang sadar dirasakan setelah kehilangan. Iya. Kenapa tunggu kau jauh dulu baru bertanya kabar. Kenapa tunggu kau pindah ke Kalimantan dulu baru sadar kau adalah kesayangan.

Bagaimana rasanya hidup di Kalimantan?

Nias panas terus. Sudah lama tak turun hujan. Gerah. Kau tau kipas angin di kamar kita tak henti-hentinya berputar. Hanya gorden kamar yang tak lagi kubuka ketika malam. Kau taulah, aku paling takut sendirian. Jadi meskipun kamar rasanya pengap, gorden itu tak berani kusingkap. Aku masih sering terbangun tengah malam, Ay. Masih sering juga menangis tertahan. Bedanya tidak ada kau. Dan rasanya sangat tidak menyenangkan.

Ngomong-ngomong soal menangis, sejak kabar kepindahanmu semakin pasti, aku tidak pernah menangisi kepergianmu, kan? Kau harusnya memberikanku hadiah untuk itu. Tapi jangan deh Ay, aku ingin membuat pengakuan.

Di hari kedua puluh lima di bulan pertama tahun ini, pagi itu, aku terbangun dengan fakta koper-kopermu sudah tersusun rapi di depan mata. Hari itu kau memang harus benar-benar pergi. Bukannya aku tak sadar selama beberapa hari sebelumnya, aku menghitung mundur juga. Hanya saja aku takut perasaanku meledak. Kutahan-tahan di dalam dada. Pagi itu kita sarapan bersama, menghitung detik untuk mengantarkanmu ke bandara. Apa yang berkecamuk masih bisa kuredam. Kita masih bisa tertawa-tawa disana. Mengabadikan momen kepindahanmu di kamera. Hingga akhirnya pesawatmu datang juga. Di ruang tunggu itu kupeluk tubuhmu dengan erat. Baumu kuhirup untuk kuingat. Dan kaubuktikan sendiri, aku tak menangis kan? Tidak, sampai kau hilang di balik puluhan penumpang lainnya, berjalan dengan pasti ke pesawatmu. Di titik itu robohlah semua pertahananku.

Rasa-rasanya ketika menuliskan surat ini, airmataku ingin jatuh lagi.

Ternyata aku belum siap kautinggalkan, Ay.

Aku tau aku tak punya teman lagi di kamar. Tak punya teman sepertimu lagi di pulau ini. Tak punya satu-satunya manusia yang kukenal dekat bertahun-tahun lamanya. Tapi yang lebih menyedihkan lagi dari itu, aku tak sempat sadar, kenapa tunggu kau jauh dulu baru aku bertanya kabar. Iya. Kenapa tunggu kau jauh dulu, Ay.

Ay, maafkan semua salahku selama kita berbagi hidup di kamar ini ya. Maafkan ketidaksadaranku. Mungkin selama ini banyak ketidaksadaranku yang menyakiti hatimu. Membiarkanmu sendirian di kamar sementara aku pacaran, membuat kamar kita berantakan, mengganggu tidurmu dengan curhatan, apapun itu Ay, maafkan aku. Terima kasih untuk semuanya, Ay. Untuk apapun yang sudah kita lalui bersama. Untuk bahumu yang selalu ada kapanpun aku butuh, untuk tawamu yang selalu melengkapi gembiraku, untuk kenangan yang tak akan mungkin aku lupa. Semoga disana kau selalu dilingkupi bahagia, Ay. Kuharap, begitupun aku yang sendiri tanpamu disini.

Ini hari pertamamu masuk kantor kan, Ay? Semangat ya! Kalau ada yang macam-macam sama kau, bilang samaku. Ini serius.

Menyuratimu dengan rindu,

Aku.

P.S: kaka dede, kak bobo, kak nelly, didang, iin, sama bang cuun jadi tau kalo aku cengeng banget gara-gara kejadian di bandara kemaren itu, Ay. Huaaaaa…. T.T


dear dian @pranestiputri sastro & mariana @omikchu renata

Kepada Dian Sastro dan Mariana Renata,

Apa kabar, cantik? Kangen ih.

Awalnya dulu kupikir kalian adalah tipikal anak-anak Jawa yang terbiasa berbicara dan bergaul hanya dengan mereka yang sealiran saja. Sebagai pribadi yang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika, sejujurnya aku enggan dengan kebiasaan seperti itu. Bukannya ngeles karena tak punya satu bahasa daerahpun yang dikuasai, bukan, ini cuma masalah selera. Tapi ternyata, kalian beda.

Dian Sastro. Kau perempuan Jawa tergalak yang pernah kutemui. Baiklah, aku mengakui. Kau Bataknya Jawa. Dengan kepiawaianmu merangkai kata, merajut canda, menebar tawa di jalinan pertemanan kita, aku mengagumimu. Kau juga pribadi yang mengayomi, mungkin faktor umur diantara kita sih.. Tapi tetap, sebagai sosialita di kancah Ibukota khususnya daerah Kemayoran sekitarnya, kau juara.

Mariana Renata. Kau perempuan Jogja terkocak yang pernah kukenal. Aku juga mau mengakui, aku penggemar nomor satu gambar-gambar buatanmu. Diasah sedikit lagi kupikir lalabohang juga lewat kaubuat. Darimana kreativitasmu bermula? Seringkali tak terpikirkan dan mengejutkan. Mungkin karena kelucuanmu, kadang aku berpikir diantara kita bertiga kaulah si bungsu.

Suatu pagi, beberapa jam sebelum pesawatku terbang meninggalkan ibukota, sms dari Dian sampai di layar henponku. Dian bilang sampai jumpa dan jaga diri baik-baik sebab pasti akan ada piknik lagi di antara kita. Di titik itu aku menyadari, kebahagiaan di akhir minggu bersama kalian akhirnya harus disudahi. Kemudian tanda mula untuk rindu terhujam di dadaku. Ternyata kehilangan itu nyata.

Mungkin surat ini terlihat berlebihan di mata kalian. Aku cuma mau minta maap atas janji yang mungkin belum kupenuhi.  Maap untuk semua tingkah yang mungkin sering membuat kalian jengah. Maap untuk semua kekuranganku di sepanjang perjalanan kita. Aku juga mau bilang terima kasih sudah menoreh warna-warna cerah di kanvas kehidupanku di ibukota. Terima kasih untuk semua tawa yang kita cipta. Terima kasih untuk penat yang kita bagi di taman-taman kota. Terima kasih untuk menjadi Dian Sastro dan Mariana Renata terbaik yang pernah kueja dengan mudah namanya. Terima kasih sudah lahir di dunia. Mungkin, jika tidak ada kalian, piknik dan bersenang-senang di taman hanya khayalan. Sementara di sini, masih belum kutemukan teman bertamasya sesempurna kalian.

Aku cuma mau bilang. Aku kangen. Jadi, kapan kita piknik lagi?

 

 

Sesenggukan manis di balik keranjang,

Aprilia Apsari.

piknikasik


kangen @zulky

Gunungsitoli, 17 Januari 2013

 

Ki..

Gimana disana?

Aku kangen. Kangen yang datang tiba-tiba seperti angin di beranda kosan baruku. Kangen yang datang menyergap sesukanya seperti hujan yang tak tahu jadwal di kotaku. Kangen yang mendera bertubi-tubi di setiap sepi. Kangen yang menemani di setiap jejak langkahku yang ragu-ragu. Pelan-pelan kujalani juga, tapi aku masih gagu. Ternyata begini rasanya membiasakan ketiadaan dirimu di hari-hariku. Dulu, kupikir tak segetir ini melepaskanmu. Ternyata susah juga. Lebih hampa dari yang kukira.

Kota ini masih asing, Ki. Pulau ini apalagi. Dengan isi ulang aqua galon yang langka dan mahal, serta sinyal yang seringkali hilang, aku mencoba membetah-betahkan diri. Disini tidak ada Jco jajanan kesukaan kita. Rasa-rasanya setiap aku penat, ajakan  “Jco yuk!”-mu begitu kudambakan. Kubayangkan kekonyolan yang kaulakukan dengan topping donat-donat itu. Disini tidak ada hop-hop coklat kesukaanku, yang mungkin dengan itu kaubiasanya membujuk rajukku. Tidak ada tempat nongkrong biasa kita. Tidak ada lagi pagar kosan warna merah yang sering kulompati karena pulang terlalu malam denganmu. Tidak ada Inul Vista dan sejenisnya. Beberapa tempat karaoke lokal yang kulihat disini masih belum berani kudatangi. Aku belum seberani jaman kita gila-gilaan dulu-lah, Ki!

Meski begitu, Ki. Seperti yang pernah kita bicarakan. Ini babak baru kehidupan kita. Setelah kuliah empat tahun yang menguras pikiran, magang setahun yang meminta kesabaran, masa pengabdian kita akhirnya dimulai. Cita-cita kita, mimpi kita, semua rancangan masa depan yang telah lama kita siapkan, pelan-pelan kita wujudkan. Aku tahu, memulai memang selalu begini. Tapi aku yakin, doamu pasti sampai kesini. Menemani sesenggukan kesepianku yang datang sekali-sekali.

Aku juga kangen Dika, Dedes, Tiwi, sama Eka. Kangen menggila. Kangen yang ditahan-tahan agar aku tak harus menyeka airmata.

Kalau ada gadis Jambi yang menarik hatimu, kabarkan padaku. Bukannya ingin mencampuri urusan perasaanmu, tapi aku hanya ingin tahu gadis mana yang harus mulai kujaga pula perasaannya. Hanya ingin memastikan padanya kalau kau sebenar-benarnya sahabat baikku. Ohya, sampaikan salamku pada vespamu. Siapa namanya? Kuharap dia mampu menemanimu menuai tawa, mengambil peranku di setiap jalan baru yang akan kaulalui. Jangan ngebut-ngebut! Jaga dirimu.

Baik-baik disana ya, Ki..

dengan kangen yang mengental,

aku.