terbunuh pikiran

Sebuah sepeda motor tanpa lampu sein memotong lintasan sepeda fixie-ku. Hampir. Jika sepedaku lebih kencang beberapa km/jam saja, habis sudah. Untung kakiku masih sigap menahan kayuh. Membuat rem torpedo sepedaku bekerja tepat waktu.

Aku mengumpat dalam hati. Mengumpat pemilik sepeda motor kurang ajar itu, dan mengumpatmu, laki-laki brengsek yang membuatku menangis di sepanjang jalan ini.

Rasa-rasanya tangisku akan jadi lebih besar lagi jika aku lupa aku sedang berada di jalanan. Kutahan-tahan. Air yang tiba-tiba saja memenuhi pelupuk mataku membuat pandanganku kabur. Aku kesal. Aku marah. Entah pada siapa yang utama. Entah pada siapa harus kutujukan.

Kota ini kota kecil di pesisir pulau paling barat Sumatera. Kota kecil yang berusaha untuk menjadi besar. Tidak ada yang salah dengan kota ini sampai beberapa penduduk tampaknya gemar meninggalkan bekas kejadian perkara kecelakaan di jalan-jalan aspalnya. Gambar-gambar dari cat berwarna putih di jalanan yang berwarna abu. Aku belum pernah bertanya langsung pada pihak Kepolisian tentang fenomena ini, tapi sejauh pengamatanku, hampir setiap minggu ada saja gambar-gambar baru di jalanan. Gambar yang menunjukkan bekas kecelakaan lalu lintas. Kadang lokasi-lokasi tertentu tampak menjadi tempat favorit kecelakaan sangking terlalu banyaknya gambar. Menjadi lokasi angker yang dibicarakan banyak orang. Dan menjadi beban tersendiri untukku ketika harus bersepeda sendirian di jalanan kota kecil ini. Aku takut juga. Tidak mau jadi bagian dari gambar-gambar itu.

Tapi kali ini aku harus bersepeda sendirian. Tanpa dia yang biasanya selalu ada menemaniku. Biasanya ada dia yang menuntunku ketika akan berbelok atau menyeberang jalan. Biasanya ada dia yang menjagaku dari belakang. Biasanya ada dia yang selalu mampu memberiku rasa aman. Kali ini tidak. Dia tidak ada.

Kukayuh sepedaku perlahan. Hati-hati kutelusuri jalanan. Langit tampak cerah. Sore yang hangat untuk menghabiskan waktu. Sementara di telingaku lagu-lagu dari album kedua Homogenic masih mengalun. Mengisi dada kiriku yang rasanya  kosong sejak seminggu yang lalu. Sejak dia membiarkanku meninggalkannya, menyudahi hubungan kami yang sudah setahun.

Aku bingung. Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa? Apa yang ada di pikirannya hingga bisa dengan mudahnya membiarkanku pergi begitu saja?

Seminggu yang lalu kami bertengkar hebat. Perkaranya perempuan yang pernah menjadi tunangannya kembali menyapanya dengan hangat. Padahal perempuan itu yang menyudahi pertunangan itu. sekonyong-konyongnya dia hadir lagi, memberi kabar bahwa dirinya tak bisa ikhlas dengan apa yang aku dan lelakiku jalani. Lalu lelakiku gamang. Tak bisa membelaku. Tak bisa memberi penjelasan pada perempuan itu bahwa kami sedang tidak main-main dan sudah bukan waktunya lagi baginya untuk memperdulikan perasaan apapun yang pernah ada. Toh mereka sudah menjadi mantan.

“Nanti aku jelasin ke dia.” Kata lelakiku saat kuminta pembelaannya.

“Sekarang, Bang. Adek mau sekarang.”

“Nanti.”

“Nanti kapan? Apa susahnya sih dijelasin sekarang?”

“Kamu kok ngotot gitu?”

“Lah aku pacar abang. Perempuan manapun yang jadi aku bakal nuntut hal yang sama.”

“Iya nanti kan bakal dijelasin. Ya gak mesti sekarang juga. Ada waktunya nanti.”

Kalimat-kalimat berulang memenuhi percakapan kami waktu itu. Alot. Dia tetap pada pendiriannya untuk menunda penjelasan. Aku tetap memaksanya untuk memberi penjelasan saat itu juga. Hingga pada akhirnya aku memberinya pilihan, kalau dia tidak mau menjelaskannya saat itu juga, aku pergi. Dan dia bergeming. Aku pergi membawa luka. Hubungan yang kami banggakan sirna.

Sudah seminggu berlalu dan airmataku belum habis-habis juga untuknya. Terlalu perih. Aku sulit menerima kenyataan bahwa dia membiarkanku pergi meninggalkannya, dia tidak menahanku, dia melepaskanku.

Pada titik ini aku berpikir lagi. Katanya, jika seorang perempuan ingin pergi meninggalkan lelakinya, secinta apapun lelaki itu padanya, dia akan membiarkan. Sebab menurut laki-laki untuk apa dia menahan kepergian perempuan yang sudah tidak bahagia lagi bersamanya. Padahal perempuan mana yang tidak ingin dikejar. Entahlah, tapi aku berharap dia menahanku. Aku berharap dia mengejarku dan tidak membiarkanku pergi. Tapi tidak.

Aku juga kecewa karena tidak dibelanya. Aku benci kenapa dia harus memilih menjaga perasaan perempuan itu daripada menjaga perasaanku. Apa yang ada di pikirannya? Aku harusnya sabar dan menunggu kapanpun waktu yang dia rasa tepat untuk menjelaskan ke perempuan itu? Hah! Kenapa harus aku yang berkorban?

Aku patah hati sendirian.

Lagi-lagi airmataku menggenang. Kutahan-tahan lagi. Pandanganku kabur. Mataku panas dan berat. Rasanya pelupuk mataku sudah tidak kuat lagi menahan genangannya. Beberapa tetes jatuh. Cepat-cepat kuseka. Jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Debu dan daun-daun kering beterbangan.

Apa aku yang salah? Apa aku harusnya sabar dulu dengan apa yang dia lakukan? Menunggunya memilih waktu yang tepat untuk memberi penjelasan. Menerima kegamangannya dengan keikhlasan. Membuatnya yakin dengan kebersamaan kami hingga dia akan semakin mudah mengusir mantannya dari pikiran. Memberinya bahagia dan rasa nyaman.

Apa aku harus sebegitunya berkorban?

Kalau lelakiku menjaga perasaan perempuan itu, sementara aku harus menjaga pula perasaannya, yang menjaga perasaanku siapa?

Kepalaku penuh tanda tanya. Perasaanku penuh kecewa. Sementara pandanganku makin kabur karena airmata. Semakin aku memikirkan apa yang tengah aku alami, semakin perih perasaanku, semakin deras airmataku.

Jalanan masih ramai. Lagu-lagu Homogenic masih memenuhi telinga. Aku hanyut dibawa perasaan. Memikirkan kenyataan. Dari arah berlawanan sebuah truk tampak melaju kencang. Di depannya ada segerombolan pemuda menaiki sepeda motor dengan santai. Kupikir truk itu akan memotong lintasan mereka. Tapi lebar jalan pun sepertinya tidak memungkinkan. Belum lagi selesai aku memikirkan bagaimana mungkin truk itu bisa menyalip segerombolan pemuda di jalan yang tidak terlalu lebar, suara teriakan memekik memberi peringatan.

Sepedaku dihantam dengan keras. Lalu semuanya gelap.

Iklan

i’m temporarily broken

Hujan menjadi-jadi di luar. Kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi mengisi hening di antara kita. Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menahanku pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau paling tahu bagaimana caranya menciptakan hening. Sementara aku paling bisa membangun dinding. Kombinasi keduanya dalam beberapa saat lagi akan membuat sejarah. Sejarah penting pada hidupku mungkin, entah kalau buatmu.

Ah, kau kesayangan yang kubenci. Apa perlu kujelaskan dengan detail padamu? Ini bukan perkara cemburu. Ini lebih karena aku tersesat dalam labirin permainanmu pada perasaanku. Kalau kautanya mauku apa, aku mau kau jauhi perempuan itu, bicarakan dengan hangat rencana-rencana manis kita, lalu jatuh cinta segila-gilanya. Aku mau kau dan aku selamanya. Sesederhana itu.

Tapi kau membuat ini menjadi rumit.

Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk memelukku sekali lagi dan melarangku untuk pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau kesayangan yang pernah jadi satu-satunya tujuan. Apa perlu kujelaskan detail padamu? Kita sudah berjalan sejauh ini, cobaan yang kita hadapi tak sedikit, dan tak ada yang menjadi masalah hingga kau membagi hatimu untuk perempuan itu. Kesetiaanku kauhadiahi ini?

Hujan semakin menjadi-jadi di luar. Kubayangkan jika saat ini juga aku pergi, kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi akan mampu menyembunyikan tangisku.

Selama ini mungkin aku hanya tahu bagaimana cara mencintaimu, tanpa tahu bagaimana membahagiakanmu. Apa kau bahagia bersamaku? Kalau iya, harusnya kau tidak membiarkanku pergi.

Entah apa rencana Tuhan. Dia biarkan aku jatuh padamu terlalu dalam lalu menghempasku pada kenyataan seperti ini. Mungkin jika lain kali jatuh hati, aku harus mengajak Tuhan ikut serta. Aku tak ingin mencari lagi, biar Dia saja yang tentukan. Toh semuanya sudah diaturNya, kan?

Tapi sebelum aku benar-benar pergi, apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menggenggam tanganku dan melarangku untuk pergi, menjanjikan kau akan berubah –meski untuk itu kau tidak harus terlalu keras memaksanya–, dan berkata kita akan baik-baik saja. Sedikit saja. Ada?

Jika memang harus pergi, aku pergi.

Hujan reda. Kukayuh sepedaku dengan sesak di dada. Sepanjang jalan banjir airmata.


Diproteksi: :)

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


satir

1-

Apa yang sedang kauusahakan, ketika kaumeninggalkan dia-meminta dia meninggalkanmu, lalu kini kaumencoba membuat dia meragu?

Lucu. Bagaimana mungkin kau bisa-bisanya tak mampu membiasakan diri tanpanya?

Sementara itu, dia sedang mengusahakan bahagianya yang baru. Sementara itu, jika kau terus begitu, jika suatu hari nanti dia meninggalkan perempuannya karenamu, apa kau tega berbahagia atas luka baru perempuan yang tak punya salah padamu?

Bahwa kadang harusnya tetap ada logika di kepala, walau sedang sejatuh-jatuhnya dalam cinta.

2-

Apa yang sedang kaupikirkan, ketika kau ditinggalkannya-meninggalkannya karena dia yang memintamu, lalu kini kau meragu?

Lucu. Bagaimana mungkin kau bisa-bisanya tak bisa menentukan hati mana yang kaupilih?

Sementara itu, aku jatuh terlalu dalam padamu. Sementara itu, jika kau terus begitu, bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kesayanganku meradang, apa mungkin aku tega mengubur dalam-dalam impianmu atas perempuan yang pernah menjadi kecintaanmu dulu?

Bahwa kadang demikianlah orang-orang di luar sana menyebutkan, bentuk mencintai paling besar adalah melepaskan orang yang dicintainya untuk memilih bahagianya sendiri.


bahwa mencintai itu..

bahwa ia yang kauletakkan paling dekat dengan jantung, paling lekat dengan hati, memang yang paling mampu melukai.
bahwa ia yang pernah kauhapus airmatanya, yang pernah kaupeluk jauh dari duka, memang yang paling mampu membuatmu nestapa.
bahwa mungkin ia yang kaubalut lukanya, kau lepaskan panah yang menyakitinya, memang yang paling bisa membuat panah itu melebamkanmu juga.


surat yang terlambat dikirim

Kepada Zi,

Suatu hari sebuah lagu mampir di ruang telingaku. Sebuah lagu yang tiba-tiba membuat salah satu organ di tubuhku, entah itu hati, entah itu otak, entah itu hanya segelintir zat kimia dalam tubuh yang membuatku mengingatmu dengan berlebihan. Sebuah lagu yang pada akhirnya membuat orang-orang berpikir bahwa lagu itulah kesukaanku, padahal ia kecintaanmu dulu. Kemudian adegan bahagia terputar berulang-ulang. Seketika dopamine fiksi kusesap dari udara.

Waktu terlalu cepat berlalu untuk kehilangan yang tak pernah indah untuk dikenang. Demikanlah hari-hari habis setelah kita berhenti untuk saling berbagi kebahagiaan. Aku memintamu untuk menyudahi apa-apa yang kupikir belum lagi kita mulai. Di titik ini aku menyesal. Aku belum tahu rasanya bertengkar denganmu. Belum tahu bagaimana meredakan emosimu. Atau menyelesaikan prahara yang bisa terjadi pada kita kapan saja. Kita masih menikmati gulali yang jatuh dari langit saat itu. Belum lagi sakit gigi dibuatnya.

Bagaimanapun mungkin karena kamu yang pertama. Masa merelakan kehilangan adalah perayaan takdir dengan leluconnya yang satir. Aku sadar ada banyak mata dan pikiran yang memojokkanku di bagian ini. Bahkan mungkin aku dianggap memercik api. Meminta murka dari pemilik hatimu yang sekarang sudah nyata, istrimu.

Aku belajar berdamai dengan kehilangan. Aku akan menghargai diskusi jika suatu hari aku jatuh cinta lagi. Tidak akan kubiarkan kisahku denganmu ditulis ulang.

Demikianlah hal-hal tentangmu semakin samar. Begitupun dengan  perasaan. Jika suatu hari aku mengenangmu lagi, percayalah tidak akan pernah ada lagi keinginan untuk memiliki. Aku masih memiliki mimpi selain masa lalu yang memenuhi hati. Sebab waktu mengajarkanku pelan-pelan, memang bukan kau yang kuingin jadi Tuan.

dengan kebahagiaan yang turut serta dalam doa pernikahanmu,

mantanmu.


panah dan sekerat hati

panah cupidmu itu, aku yang memintanya jatuh di sekerat hatiku, tak perlu terlalu kejam mencabutnya, biar aku yang lakukan.
panah cupidmu itu, aku yang memintanya jatuh di sekerat hatiku, luka di bekasnya tidak akan membuatku membencimu. aku berhenti. panah cupidmu kukembalikan. sekerat hatiku lebam.