menu

Sunday morning rain is falling.
Jalanan di luar basah. Udara lembab. Sepi. Sisa-sisa hujan tadi pagi masih terlalu menguasai suasana siang ini. That’s my favourite weather actually. Kalau saja tidak ada sejengkal lambung yang memaksa untuk diisi, melengkung di balik selimut adalah satu-satunya hal yang paling membahagiakan saat ini.
Rumah kosong. Kamar-kamar single di sekelilingku tampak tak berpenghuni. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di luar rumah pada hari libur, kan? Mungkin dari belasan orang yang menyewa kamar-kamar di rumah besar milik pengusaha karet asal timur ini, hanya aku yang betah berlama-lama di kamar jika off dari kantor. Bukan karena kamarku yang paling nyaman, tapi nyamannya aku ya demikian.
Well, I’m looking for food. Kukendarai skuter merahku. Bukan vespa klasik impian. Ini tak ubahnya seperti motor skutermatik milik orang-orang kebanyakan. Jalanan kosong. Isi kepalaku juga. Hati? Jangan tanya. Disana semua kekosongan ini bermula.
Tujuan motorku sebuah warung makan cepat saji. Yang ada di benakku cuma seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung. Ada yang lebih kuinginkan sebenarnya, tahu isi goreng dengan sambel cuka mirip kuah mpekmpek di warung lain lainnya. Letaknya sekitar dua kilometer dari warung makan tempat ayam goreng tepung tersebut.
Mendapatkan seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung tidak membutuhkan waktu yang lama. Segera setelah mendapatkannya, kunyalakan lagi motorku. Namun urung kukendarai karena handphone disakuku berdering. Satu-satunya kesayanganku memanggil. Enggan kuangkat, tapi akhirnya aku menyerah juga.
“Halo.”
“Akhirnya diangkat juga.”
Bola mataku berputar.
“Kenapa?”
“Masih ngambek ya?”
“Menurut kamu?”
Kudengar helaan napas di seberang sana.
“Udah makan?”
“Memangnya kamu peduli?”
“Aku baca timeline katanya kamu kepengenan tahu isi di Tiptop. Jadi mau kesana? Biasanya sekitar jam dua baru selesai digoreng.”
“Kamu udah bisa mutusin milih siapa?”
“Sayang, plis..”
“Gak usah ngomong sayang! Aku gak butuh. Aku cuma mau kamu milih. Kamu konsisten dengan pilihan kamu. Udah. Cukup. Itu doang.”
“Kita gak mesti ngebahas ini lagi sekarang kan? Come on, aku-“
“Jangan pernah hubungin aku lagi sampe kamu bisa milih.”
Kuselesaikan pembicaraan itu sepihak. Setelah menarik napas panjang dan dalam, kumatikan handphone, perlahan roda skuterku berputar.
Jalanan lengang. Kukendarai skuterku perlahan. Dengan tujuan warung satu-satunya di kota ini yang menyediakan tahu isi goreng dengan sambel yang spesial. Sudah sejak berminggu-minggu yang lalu tahu goreng itu kuidamkan. Karena kesibukan kantor, keengganan keluar dari kamar kosan, atau lebih seringnya karena kehabisan, keinginanku belum terpuaskan. Semalam kuceritakan keinginan itu di twitter. Sebenarnya aku tidak berharap dia tahu, laki-laki dengan mata cokelat itu harusnya tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Tahu goreng itu tak seberapa dibandingkan dengan keinginanku tentangnya. Tentang kami. Aku hanya ingin kepastian darinya.
Tepat saat kuparkir skuter di depan warung, handphone-ku berbunyi. Kali ini pesan masuk.

Aku tidak tau bagaimana lagi menjelaskan ini semua padamu.
Aku membutuhkanmu, tapi aku belum bisa melepaskannya.
Bisakah sedikit saja kamu bersabar? Sedikit lagi saja, sayang.
Demi kita. Kumohon.

Aku butuh beberapa detik untuk menahan amarahku. Kutarik napas dan kuhembuskan lagi. Berkali-kali. Halaman parkir warung ini sepi. Kenapa hari ini begitu lengang? Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menghangatkan atau paling tidak mengalihkan kekacauan perasaanku? Dengan langkah gontai kumasuki warung berasitektur tradisional Jawa ini. Sepintas kulirik jam tua di salah satu sisi ruangan. Dua jam lagi menuju pukul dua. Sekelebat perasaan khawatir melintas. Tapi kuhiraukan.
“Mbak, saya mau tahu isi goreng. Dua porsi. Dibungkus ya, Mbak”
“Maaf, Mbak. Tahu isinya baru mau digoreng.”
“Ogitu. Masih lama?”
“Hmm. Mungkin sekitar jam dua baru jadi, Mbak.”
Damn it. Kenapa perkataan lelaki yang ingin sekali kubenci harus terbukti benar?
“Maaf ya, Mbak. Atau mau nyoba menu lain, Mbak? Ada menu baru, martabak kerang, lagi promo juga, Mbak. Beli satu porsi, gratis satu risoles.”
Kerang makanan kesukaanku. Martabak kerang terdengar menarik. Muncul sedikit perasaan ingin membeli, tapi tak jadi. Bukan itu yang benar-benar kuinginkan. Aku hanya ingin tahu isi goreng. Aku menggeleng lunglai.
Aku tak pernah sabar menunggu. Apalagi di saat suasana dan perasaanku sedang tidak nyaman. Kuputuskan mengendarai skuterku pulang. Sepanjang jalan kupikirkan satu hal yang benar-benar semakin membuat perasaanku kacau.
Mungkinkah bagi laki-laki kesayanganku itu, aku hanya martabak kerang, dan perempuan yang diketahui banyak orang sebagai kekasihnya itu adalah tahu isi goreng? Kalau memang aku yang diinginkannya, dia tak perlu menungguku bersabar seperti ini. Aku hanya ingin kepastian. Aku lelah jadi selingkuhan. Kalau memang aku yang diinginkannya, dia harusnya memilihku dengan mudah. Mungkin baginya aku memang hanya martabak kerang, kalau nanti tahu isi goreng tidak bisa dimiliki, maka aku akan dipilih. Bukan karena dia benar-benar ingin. Tapi karena yang diinginkannya tak bisa dia miliki.
Semenyedihkan itukah aku?
Jalanan masih basah. Sebentar lagi pipiku turut basah. Sisa-sisa hujan tadi pagi mengabur bersama perasaan resah.
'from we heart it'


tentang peralihan ‘nasi’ ke ‘mie’

Mungkin kadang nyaman saja tidak cukup untuk menjadi alasan dimilikinya hati. Demikian kusimpulkan. Dari tadi kucari-cari alasan untuk memenangkan egoku. Belum ketemu juga. Sementara aroma tubuhnya mengisi ruang penciumanku. Aku selalu suka bau tubuhnya. Berikut dengan mata teduhnya, pelukan hangatnya, wajah tenangnya, dan cerita-cerita bodohnya yang selalu mampu membuatku penuh gelak tawa saat bersamanya. Dia selalu mampu membuatku nyaman. Selalu sampai pada akhirnya beberapa menit yang lalu dia bilang dia kencan dengan perempuan lain minggu kemarin.

“Kamu naksir dia?”

“Engga. Emangnya ngajak cewek jalan pasti naksir yah? Dih!”

“Ntar cewek itu ngarep baru tahu rasa kamu.”

“Engga kok.”

“Tahu darimana kalo engga?”

“Kan kami ngobrol banyak. Ada beberapa hal yang diomongin, yang secara ga langsung kita sama-sama tahu kalo itu tuh kita.”

“Kalian sampe’ seintim itu?”

“Iya. Emang kenapa?”

“Emang dia cewek idaman kamu yah?”

“Engga juga sih.”

“Lah trus ngapain diajak kencan?”

“Ya gapapa. Emang kenapa sih? Gini loh. Aku kan suka nasi tuh. Tapi kan gapapa juga kalo sekali-kali aku jajan mie. Ada mie lezat di depan mata gitu yah sayang dong dilewatin. Ya kan?”

“Hih! Jahat.”

“Jahat gimana?”

“Ya jahat. Ntar kalo ceweknya ngarep, ternyata kamunya cuma nganggap dia mie doang, kan kasihan.”

“Kan aku udah bilang kalo dia ga bakal ngarep. Tipikal cowok yang dia suka tuh bukan yang kayak aku gitu loh.”

“Kalo emang bukan yang kayak kamu, ngapain dia mau diajakin kamu dong?”

“Mana aku tahu. Yang penting kita sama-sama senang. Ketawa-ketawa. Nonton film romantis. Makan. Ngobrol-ngobrol di taman. Have fun. Apa masalahnya sih, Nduk? Sewot banget.”

“Bukan sewot. Tapi kamu tuh jahat.”

“Yasalam, jahat di bagian mananya?”

“Kamu mikir ga kalo kamu ngabisin waktu sama mie mulu, ntar diam-diam ada nasi yang sakit hati, ada nasi yang ngerasa diduain.”

“Diduain gimana?”

“Ya diduain. Kamu kan sukanya nasi. Harusnya kamu konsisten nyari nasi. Bukan malah ngabisin waktu sama mie. Ntar nasi ga mau dekat lagi sama kamu. Soalnya nasi mikir kamu udah ga suka dia lagi.”

“Loh kok bisa jadi gitu?”

“Ya bisa dong. Makanya kamu mainan aja terus sana sama mie. Biar ga ada lagi nasi yang mau sama kamu! Dasar jahat.”

Aku tahu nada suaraku terlalu tinggi. Bukan mauku. Tiba-tiba saja rasanya seperti ingin marah. Tapi aku juga tidak tahu kenapa aku harus marah. Kulirik wajahnya diam-diam. Tidak kelihatan. Dia menunduk dan bergeming tanpa sepatah kata pun.

“Kamu marah? Jangan tiba-tiba diam gitu dong.”

“Engga kok.”

“Trus kenapa diam? Aku kan jadi ga enak gini..”

Kutatap wajahnya dalam-dalam. Dia resah sendiri dalam diamnya. Seperti berpikir terlalu rumit untuk menjawab pertanyaanku. Sesekali tatapan kami beradu lalu kemudian dia menunduk. Begitu berulang-ulang hingga dia menarik napas panjang dan menatapku dengan lekat.

“Aku masih suka nasi. Masih nunggu nasi. Masih ngarep nasi. Kamu kan tahu, Nduk, bagiku nasi itu cuma kamu. Tapi aku juga ga mau maksa kamu. Kamu sendiri juga ga suka kan, kalo kita ngebahas perasaanku lagi. Kalo emang kamu ga mau sama aku, kenapa aku ga boleh beralih ke mie?”

Giliran aku yang tercekat. Aku masih tak punya jawaban. Lama-lama diam meruangi kami setelahnya. Terlalu lama.


lirih (maret)

Hujan Maret mengunjungi pagi. Sisa-sisa obrolan malam kita, obrolan malam yang entah sudah berapa purnama berlalu, samar-samar memenuhi kepalaku. Pagi ini hujan mencumbuiku. Dalam-dalam. Kau masih ingat tentang peristiwa pagi yang pernah kita diskusikan? Terkadang, alasan untuk bangun pagi itu penting untuk dipertanyakan. Tidurlah dalam ketenangan, bangunlah dalam kebahagiaan. Begitu katamu. Beberapa purnama yang lalu aku sadar, aku tenang tidur dalam doamu. Saat bangun pagi, aku bahagia karena mendapati chapter baru lagi denganmu. Tapi semenjak kaum bangsawan semakin menjadi-jadi membelanjakan uangnya, para bankir dengan dermawan meminjamkan kredit, para pengusaha lebih memilih menghabiskan dana demi iklan menggoda daripada kesejahteraan buruhnya, dan inflasi menjadi hal lumrah di dunia yang konsumtif ini, aku hilang rasa. Tidur dalam lapar dan bangun bahagia karena bertemu sarapan. Sesederhana itu sekarang. Baca entri selengkapnya »


kepada sahabatnya sahabatku

Kepada sahabatnya sahabatku, Baca entri selengkapnya »


lirih

sepasang bayangan mengetuk pintuku tadi malam

mendapati aku yang meringkuk gamang

sementara di genteng licin ujung kaki gerimis menyeka muram

dingin

seisi ruang kosong

aku sudah berkali bilang, hatiku terlalu luas untuk kudiami sendirian

ini sudah malam kesekian

dan bukannya aku panik-aku tahu kau pasti pulang-

aku cuma tidak tahu kapan

lalu terbuat dari apakah impian?

sesuatu yang kugenggam ini-apakah terlalu berlebihan?

kalau memang iya, bilang pada Tuhan, kurangi itu dengan perlahan

jejakkan aku pada rendah dengan pelan

ajari aku bukan dengan siksaan kesepian

bukan karna aku benci malam dan ketukan

juga bukan karna ujung kaki gerimis terlalu ramai

tapi karna disini cuma ada aku

sendirian


ramai yang sepi

hey, kamu! sepenuh-penuhnya hari-hari belakangan ini kuhabiskan dengan kesibukan apapun yang aku bisa sibukkan. kamu apa kabar? lama yah.. lama entah apa..

hey, kamu! aku mau bikin film. aku udah buletin tekad mesti bisa ngewujudin salah satu obsesiku di sini. jadi sutradara. mesti bisa. mesti bisa meski banyak hal yang ingin kudiskusikan denganmu yang kini entah dimana. iya, kamu dimana? tak ada kabar. tak ada sms. tak ada mention. tak ada notification. pun tak ada jejakmu di ym. hilang. benar-benar meninggalkan. lalu sebenarnya apa yang kau hindari?

post aku tentang rencana dan konsep kasar film buat angkatan di grup fb itu rame notif. dari yang penting banget buat disimak sampe yang cuma nyampah aja. malam ini berasa lagi duduk di persimpangan otista. rame. crowded. tapi sepi.

*beberapa detik setelah ngetuit, aku banjir mention, padahal cuma ngetuit gini : post aq d grup ttg film rame komen tuh, post aq d kamu? sepinya.. 😦

*percuma sih, tetep ga ada kamu nya..


i miss being me..


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

anak itu punya dunia sendiri, makanya dia keliatan gak suka diganggu kalo lagi sendirian kayak gitu. tapi aslinya gak kayak gitu juga. terlalu sepi,tau..