7/24

Ini bukan tulisan tentang review film baru artis cantik nan cerdas favorit saya, Dian Sastro. Meskipun tulisan ini terinspirasi setelah saya menontonnya. Film yang disutradarai Fajar Nugros itu sangat saya rekomendasikan ditonton bersama pasangan hidup, suami-istri. Filmnya menginspirasi. Serius! Ini buktinya saya terinspirasi untuk menulis setelah bertahun-tahun ‘libur’.

*ambil kemoceng dan bersihin debu di blog ini sambil nyanyi lagunya Tulus-Teman Hidup*

Well, hello people! Kalian yang biasa nongkrongin blog saya, apa kabar semuanya?

EH GUE UDAH NIKAH LOH! UDAH PADA TAU KAN?

*sumringah*

Alhamdulillah, setelah penantian yang tidak mudah, menelaah dengan teliti isi hati, akhirnya saya tahu bahwa hidup saya sempurna bersama Hizrawan Dodi. Dia lelaki luar biasa yang mematahkan semua teori saya tentang cinta. Jangan tanya kenapa, saya tidak punya alasan untuk menjawabnya.

Sebelum bertemu dia, kategori suami idaman saya serupa daftar list panjang bergulung-gulung seperti struk belanja. Harus indie, anti-mainstream, suka film dan fotografi, ngerti isi pikiran saya yang kadang saya juga ga ngerti isinya apa, blablabla.. Kalau kalian ketemu suami saya jangan berharap bisa nanya apa saya masih suka niru-niru Sari atau tidak, White Shoes and The Couples Company saja suami saya tidak tahu.

Dulu muluk sekali saya bermimpi punya suami seorang seniman asal Bandung atau Bali, saya pikir alangkah bahagianya setengah jiwa saya yang tidak serius dengan statistik berlabuh di dunia khayalan. Pada akhirnya saya bertemu dia, bisa jatuh cinta, dan menikah. Dan dia adalah seorang statistisi juga. Sekantor pula!

What? Sekantor, Za? Ketemu terus dong? Ga bosan apa?

Tonton 7/24 jam deh. Jadi ceritanya, Dian Sastro yang akuntan workaholic punya suami sutradara Lukman Sardi. Mereka berdua sama-sama sibuk dan jarang ketemu, untungnya komunikasi mereka berkualitas banget. Jadinya harmonis deh. Sampai akhirnya mereka berdua jatuh sakit dan barengan diopname. Selama 7 hari 24 jam mereka hidup berdekatan dan muncullah konflik. Dan seterusnya nonton aja di bioskop yah. Kalau bukan kita yang mengapresiasi film-film bagus Indonesia, siapa lagi?

Berbeda dengan kami. Dalam 7 hari 24 jam saya hidup bersama dia, suami saya. Dari bangun tidur, di kantor, balik ke rumah, tidur lagi, hampir seluruhnya aktivitas saya lakukan bersamanya. Sudah lebih dua bulan ini begitu. Tapi segala puji bagi Allah, belum pernah sedikitpun terlintas di pikiran saya untuk sengaja jauh dari dia. Sepelik apapun konflik yang sedang kami perdebatkan. Sekesal apapun perasaan saya saat dia berulah. Saya malah susah sendiri kalau harus terpaksa jauh dari dia. Kayak sekarang ini misalnya, saya perjalanan dinas sendiri, ngapa-ngapain ga ada dia.. 😦

Lebay kamu, Za! Mungkin iya. Saya yang dulu terbiasa sendiri dan mandiri, berubah jadi manja kayak begini. Salah ya? Tapi gimana dong, sama dia tuh saya udah ngerasa lengkaaaaap banget.

Hidup yang saya jalani bersama dia saya ibaratkan sebuah rumah. Kemanapun saya pergi, saya pasti akan pulang kesana. Jika rusak, kami perbaiki sama-sama. Jika membosankan, kami ganti warna atau tambah pernak-pernik pemanis lainnya. Apapun agar selalu bisa merasa nyaman, kami lakukan. Dian Sastro bilang, the foundation of everything is family. Saya sama suami sepakat tentang itu. Kita sering diskusi tentang apapun lalu mencari sebab dan solusinya. Dia sering bilang, bahkan di Quran juga dibilang, urusin dulu hidupmu dan keluargamu, ga usah sibuk ngurusin yang lain kalo hidupmu sama keluargamu aja masih ga jelas. That’s it.

Ada yang bilang cinta itu fungsi jarak. Ada yang berpendapat wajar jatuh cinta kalau sering berdekatan. Tapi ada juga yang bilang jarak bisa menguji cinta dan perasaan. Ada yang berpendapat cinta mudah hilang jika jarak terlalu memisah. Tapi ada juga yang bilang terlalu dekat malah membuat cinta kehilangan maknanya. Apapun itu, menurut saya cinta tidak butuh teori. Kita cukup butuh komitmen pada satu hal, seumur hidup jatuh cinta hanya pada satu orang yang sama. Selamanya berjuang bersama. Tidak peduli jaraknya.

Siapapun bisa berteori, pada akhirnya kita sendiri yang menjalani. Menurut saya gitu, kalo kamu? Buruan nikah gih! 😉

DSC_1144


hizrawan nyebelin dodi, liza ngambekan utami.

Demikian mudah hal-hal besar membuatku mengutuk tingkahmu, hingga hal-hal kecil membuatku mencintaimu lagi. Bahwa mungkin adamu saja cukup, hingga tak ada doa lain yang pantas kuucap selain selamanya.

Lalu kalau memang ini kebodohanku, secara sadar aku tahu, aku masih menujumu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


selamat ulang tahun, sayang :*

Kepada pemilik nama dimana kesayangan dan kecintaanku menemukan tuannya.

Kamu orangnya. Tuan dari segala penghambaan perasaanku. Jadi kamu orangnya. Sosok yang sedari dulu kutunggu-tunggu. Sebab kamu, segala resahku luluh lantak diderap rasa bahagia. Sebab kamulah orangnya, penemu rasa kelima yang tak bisa dicecap indera perasa. Di hidupku, hadirmu membuatku sempurna.

Kamu pemberi hangat di sela jemari. Pengisi kosong di rentangnya. Kamu raja di singgasana pelukku. Pemilik utuh kediaman rindu. Kamu candu yang mengalir di darahku. Mengisi palung jantungku dengan segalamu. Denyut yang membahagiakanku. Kamu bau yang menempati paru-paru. Menghangatkan rongga dadaku. Kamu penghuni kotak hati, pemilik kunci altar terbaikku.

Demikianlah Tuhan menghadirkanmu tepat hari ini tiga puluh tahun yang lalu. Diam-diam kuselipkan syukur atas lahirmu, juga atas hadirmu di hidupku. Kemudian aku ingin kamu tahu beberapa hal penting tentangmu di hari yang istimewa ini.

Pertama, aku mencintaimu.

Kedua dan seterusnya jaga kesehatanmu, berbahagialah selalu, dan teruslah bersamaku. Sebab setelah kamu, kini satu-satunya kata yang paling berharga untukku adalah kita. Setidaknya tak ada yang istimewa di dunia ini selain cerita yang sudah kita jalani, tidak puisi-puisi favoritku, pun tidak kata-kata indah kesukaanku, karena tak mungkin ada puisi dan kata-kata selain puja yang tertuju pada kita. Terus semangat selesaikan kuliahmu. Tambah lagi jam tidur di malammu, kalau tidak akan kukudeta pertandingan-pertandingan bola kegemaranmu.

Pada akhirnya segala yang terbaik untukmu menjadi doaku.

Selamat ulang tahun, sayang.

Peluk erat,

Aku.

cupu!


jatuh cinta di luar angkasa

Kepada pencipta lagu yang sedang kudengarkan,

Jadi bagaimana kabarmu di luar angkasa?

Dari bumi, kukirimkan surat ini. Aku hanya ingin bercerita bahwa bumi memang bukan tempat yang menyenangkan untuk jatuh cinta. Jatuh cinta disini seringkali membuatku lebam sampai ke dada. Mungkin karena gravitasinya. Atau karena seringkali aku jatuh dan mendarat pada tumpuan yang salah. Yang pada akhirnya sering membuatku berpikir, bagaimana kalau aku jatuh cinta di luar angkasa saja.

Kedua tanganku sekarang membiru. Mungkin sebentar lagi beku. Seandainya telingaku bisa turut biru dan nantinya bisa cukup beku untuk tuli pada suara-suara di atas bumi ini, tidak perlu aku membayangkan bagaimana hidupmu disana. Di luar angkasa tidak ada makhluk bumi, kan? Sekuat apapun makhluk-makhluk disini berteriak, suaranya tak sampai kesana, kan? Sepengetahuanku di luar angkasa kedap suara. Jadi, aku tidak perlu sibuk menutup telinga. Mungkin karena jatuh cinta di bumi dirayakan semesta. Segala makhluk berhak turut suara menyambutnya.  Belum lagi benar-benar jatuh cinta, sudah banyak hati yang harus kujaga. Padahal menjaga hatiku agar baik-baik saja aku masih tertatih. Bagaimana mungkin aku harus menjaga semuanya. Demikianlah aku mulai lelah.

Jika memang memungkinkan, boleh tidak aku menyusulmu saja? Aku ingin tahu bagaimana rasanya bercinta di luar angkasa. Jatuh lalu melayang-layang tak perlu takut benturan. Tak perlu melawan gravitasi yang selalu mengikat kaki agar jejak ke bumi. Tak perlu menghiraukan suara-suara makhluk bumi, membesar-besarkan hati agar cukup menampung segala reaksi. Aku ingin tahu bagaimana merayakan cinta lalu membias di udara. Meledakkan semua rasa tanpa harus membuat siapapun tutup telinga. Meneriakkan semua kata tanpa harus takut ada yang terluka. Aku ingin jatuh cinta sebebas-bebasnya.

“Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa. Seperti takkan pernah pulang kau membias di udara dan terhempaskan cahaya. Seperti takkan pernah pulang langkahmu menari jauh memutar.”

Karena kau di angkasa, bertetangga dengan bintang, kan? Kabar-kabari kalau salah satu dari mereka ada yang jatuh. Ada doa yang mau kulafalkan. Kalau tidak, kutitipkan saja doaku padamu, tolong lafalkan sesegera bintang jatuh. Aku ingin jatuh cinta tanpa resah, sesederhana itu.

Sisakan sedikit angkasa untukku, ya. Setidaknya seluas lirik yang kautulis. Selamat bercinta!

Menyuratimu dengan lirih,

Aku.


long distance crush in once upon a time

Sebenarnya, apakah ruang dan waktu itu penting bagi perasaan agar terjatuh dalam cinta? Seberapa penting? Sebab, kepadamu, aku tak pernah punya cukup waktu. Waktu adalah proses dimana aku berusaha agar tak salah memilah milih, hati-hati meniti hidup, melerai satu demi satu masalah lalu memenangkan apapun yang berujung kebahagiaan. Waktu tak pernah memihak padaku, pun untuk sekedar memenangkanmu. Sementara ruang? Oh, apa yang disebut dengan ruang? Lakonku perempuan. Kau tau ruang membuat gender menjadi penting, hingga warna pun di-gender-i. Padahal tanpa embel-embel itu aku pun sudah tak punya cukup ruang untuk sekedar memberitahumu tentang keberadaanku.

Dan semuanya terjadi begitu saja. Melihatmu dari teropong panjangku, di sela-sela ruang dan waktu yang menggelayuti hari-hariku. Kau tau, apakah aku pernah benar-benar melewatkanmu? Jangan heran. Sepertinya aku memang terlalu sering melewatkan. Kadang konsekuensi dari itu membuatku berkhayal tentang mesin waktu. Memperbaiki masa lalu. Tapi, denganmu, bisakah kita berhenti membahas masa lalu, kemudian membicarakan masa depan?

Konyol yah? Bagaimana mungkin dengan mudahnya aku menawarkan basa-basi bodoh seperti itu. Aku masih berpikir tentang bagaimana ini mulai terjadi dulu. Dulu sekali. Once upon a time. Di detik mana aku mulai melihat kau bukan sebagai seseorang yang biasa. Aku masih mencoba memahami, bagian mana dari dirimu yang benar-benar membuatku tidak ingin melewatkanmu lagi. Mencari-cari alasan yang logis. Lalu mungkin kau juga berpikir apa yang sedang kulakukan. Menawarkan basa-basi? Lalu mungkin kau juga ingin mengerti untuk apa aku melakukan ini. Lalu mungkin kau akan mencari-cari alasan yang logis untuk menerimaku atau tidak.

Sementara itu di sinilah aku sekarang. Kita tak pernah punya kesamaan ruang dan waktu. Jadi kuputuskan untuk menghampiri ruang dan waktumu. Menimbang-nimbang perasaan. Menahan gemuruh ketakutan. Menelaah kenyataan. Menunggumu menjemputku.

Terminal ramai. Aku sendirian. Dikelilingi bahasa dan adat istiadat berbeda membuatku diam dan canggung. Pelan-pelan kupikirkan, andai jatuh cinta tidak seberat mempertimbangkan ruang dan waktu, andai jarak tidak membatasi kau dan aku, apakah semua ini akan tetap jadi nyata? Lalu logika mengingatkan perasaanku untuk menadah segala kemungkinan. Aku tidak ingin kau dan aku berakhir seperti awal kita memulai, menjadi orang asing. Maka kusudahi angan-angan. Dari jauh kulihat kau datang. Sumringah kusembunyikan. Salah tingkah dengan segera beranjak dari tempat itu dan kau mengingatkan,

“Kita belom salaman..”

Kusambut tanganmu dengan harapan. Ya. Aku tidak ingin kita berakhir seperti awal kita memulai. Jadi, kuluruhkan saja segala perasaan. Karam bersama ketakutan. Sebelum aku tiba di dasar, mungkinkah kau menyelamatkanku?


menyalahkan langit

Langit Jakarta pagi ini aneh. Menggulung dan kelabu. Tidak hitam. Bukan mendung karena menahan jatuhnya titik-titik hujan. Bukan menahan badai. Entahlah. Pokoknya, langit Jakarta pagi ini aneh.

Lalu aku mendapati bukan langit saja yang aneh pagi ini. Ada sesuatu di perasaanku yang bergejolak. Pelan-pelan gejolaknya terbawa darah, mengalir ke sekujur tubuh. Gejolak mewabah. Pori-pori di kulitku menjadi merasa tak menentu. Sesekali bulu-bulu halus yang tumbuh di atasnya bergidik. Sesekali aku gemetaran. Lalu gejolak perasaan turun ke perut. Kali ini sakit dibuatnya. Perutku melilit tanpa meminta apapun untuk dikeluarkan berupa hajat. Melilit melintir-lintir seiring gejolak rasa yang terus meronta-ronta. Tak lama kaki dan tanganku dingin. Aku tremor mendadak. Maka ketika kepalaku ingin dikuasai gejolak itu, secepatnya otakku jalan. Ya, aku menemukan jawaban. Penyebab gejolak ini, aku tau.

Aku tau ini semua pasti gara-gara dia. Dia yang menumpahkan pesonanya di segala arah pandangku waktu itu. Dia yang mengisi ruang udara dengan kejeniusannya merangkai kata. Dia yang menyikapi duniaku dengan sebelah mata lalu menculikku untuk mengakui bahwa dunianya memang jauh lebih indah. Dia menguasai semua inderaku. Semuanya. Dengan mudah.

Harusnya aku berhenti di titik kagum padanya. Bukan memanjakan keinginanku untuk memujanya. Bukan membiarkan hasratku terlalu menggebu untuknya.

“Sayang, langitnya aneh gitu. Mau aku anterin ke kantor?”

“Engga usah, Mas. Aku jalan sendiri aja.”
“Mau hujan gitu, loh. Yakin jalan sendiri?”

“Yakin. Langit yang mau hujan engga kayak gitu bentuknya.”

“Hujan tidak akan turun tanpa tanda-tanda, begitu?”

Pertanyaan laki-laki yang sudah setahun menjadi suamiku itu kujawab dengan senyuman. Kukecup keningnya lembut.

“Adek ngantor dulu yak. Ntar siang adek bawain maem. Masih syuting di tempat kemaren, kan?”

Gantian dia menghadiahi senyumannya untukku. Aku beranjak. Romantisme pagi ini tidak mengobati gejolak rasa yang menguasaiku dari tadi. Sakit perutku makin menjadi-jadi. Ah, sialan memang. Kenapa harus seperti ini lagi? Pernikahanku memang baru seumur jagung. Tapi aku yakin aku bisa bahagia. Seharusnya tidak menjadi sesulit ini. Toh aku juga menikah karena keinginanku. Tidak ada paksaan dari siapapun. Tidak ada permintaan krusial dari keinginan pihak manapun. Aku menikahi Mas Beta dengan sadar. Harusnya gejolak perasaan seperti ini tidak boleh ada.

Bip-Bip.

“Tet, udah tau belom? Alfa di Jakarta loh.”

“Oya? Engga tau. Gue udah lama ilang kontak sama dia.”

“Ngga mau ketemu dia, Tet?”

“Ngga ah. Hectic gue.”

Ah sudahlah! Aku ingin berpura-pura pada semua orang tentang gejolak ini. Tidak perlu ada yang tau. Tidak Mas Beta. Tidak juga sahabatku yang telat tau bahwa laki-laki yang pernah kugilai itu sedang berada di kota yang sama denganku. Tidak perlu ada yang tau. Tidak rinduku. Tidak juga permintaan hati yang sudah kecekoki defenisi terjauh tentang dia. Ya. Jika semua kata tentang kehilangan dan keterpaksaan untuk melepas dirangkum menjadi satu kata terjauh, berjarak darinya sudah kulabeli dengan kata itu.

Kupandangi langit aneh pagi ini dengan resah yang masih belum reda. Aku ingin berpura-pura langit ini tidak memayungi aku dan dia bersamaan kali ini. Dulu sebelum akhirnya jarak membuat aku dan dia batal jatuh cinta, berada di bawah langit yang sama dengannya adalah harapan terbesarku. Sekarang ketika itu terwujud, aku resah. Aku ingin berpura-pura gejolak aneh ini hanya perasaan sesaat. Kuredam kuat-kuat.

Bip-Bip. Telpon genggamku berbunyi lagi. Nama Alfa tertera di layarnya.

“Tet, aku lagi di Jakarta.”

Lalu seribu kupu-kupu menyerbu perutku. Lalu mataku mengabur. Airmata tumpah ruah sudah. Resahku tidak berakhir, tapi rinduku mengalir lewat airmata. Aku lumpuh.


selamat ulang tahun, jah..

I love(d) you. If I quit now, it doesn’t mean I don’t. I’m still but keep the real.

Orang bilang dewasa itu bukan hanya ukuran umur. Menua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan. Januari tahun ini aku dua puluh tiga tahun. Itu umur yang seharusnya tidak diwarnai kegalauan lagi kah? Hahaha. Galau itu bukan aib. Men-judge galau dengan sesuatu yang negatif tidak adil juga kupikir. Ada orang menggalau lalu dia jadi kreatif. Ada yang galau lalu dia jadi inspiratif. Ada masanya galau berporsi dan memang diinginkan dengan sadar. Mereka yang terlalu men-judge galau dengan tidak adilnya mungkin tidak banyak tahu bahwa galau tidak cuma sekadar perasaan yang tidak menentu saja. Galau itu bisa dihentikan sendiri oleh si empunya ketika dia memang benar-benar merasa sudah waktunya berhenti, kok. Jadi jangan memaksa. Biarkan saja mereka berkembang sesuai dengan kemampuan dan potensinya. Kalau mengganggu, abaikan. Kebanyakan dari penggalau sebenarnya tak butuh mereka yang menaruh perhatian pada penggalauan lalu mencibir diam-diam. Penggalau cuma butuh ruang.

Oke, maap. Salah fokus.. 😀

Dulu ketika aku masih anak-anak, sekali dua kali aku pernah mengidam-idamkan bersegera jadi dewasa. Cepat gede, istilahnya. Sekarang, udah umur dua puluh tiga, sering kepikiran juga lebih enak jadi anak-anak. Aku tidak tahu apa aku sudah dewasa atau tidak, tapi dunia makin hari makin melelahkan saja. Berbeda ketika aku masih di dunia anak. Orang dewasa itu terlalu banyak yang dipertimbangkan. Dipikirkan. Katanya dunia cinta milik orang dewasa, tapi coba lihat sebanyak apa orang dewasa yang sulit dibuatnya. Beda dengan dunia anak. Dulu, waktu masih kecil, gampang banget bilang suka sama teman, main rumah-rumahan, nikah-nikahan. Kalo naksir tinggal bilang. Kalo ditolak yah masih aja temenan.

Januari ini aku dua puluh tiga dan berharap aku dewasa ketika jatuh cinta. Aku ingin hidup dengan baik dan jatuh cinta dengan baik pula. Aku ingin ketika aku mengeja cinta, yang tereja yang indah-indah. Tidak ada luka. Tidak ada nestapa. Karena sesungguhnya cinta itu memang indah. Kalaupun aku pernah mengalami luka, itu bukan cinta, itu wujud lain yang menyertainya. Mungkin ego, gengsi, kagum, nafsu, ingin memiliki yang berlebihan, paksaan, atau perasaan apapun yang menyamar sebagai cinta.

Dan di Januari ini, aku mengenalmu.

Berharap mengenalmu adalah awal perjalanan membahagiakan. Berharap kali ini aku memulai dengan baik sesuatu yang akan dikenang. Kupikir aku jatuh cinta. Ya. Sepertinya aku jatuh cinta. Soalnya segala tentangmu menjadi indah. Semacam aku yang sendirian dan kemaleman menemukan teman pulang searah. Mungkin jika bukan kamu, tidak seperti itu kisahnya. Aku jatuh cinta padamu dengan sadar, tanpa sebab-tanpa alasan-tanpa kepastian ataupun perjanjian.

Tentang apa yang terjadi setelahnya aku berserah. Seperti katamu, kalau kita percaya Tuhan, kita harusnya tenang. Aku jatuh cinta padamu, iya, tapi kisah setelahnya aku tak bisa banyak bercerita. Akhirnya aku menemukan momen perpisahan yang mendewasakan. Ya, setelah berkali-kali jatuh cinta, setelah berkali-kali berantakan akibatnya, aku menemukan perasaan seperti ini. Merelakan.

Jangan pikir aku mudah melalui ini. Entah sudah berapa kali aku sadar rinduku untukmu selalu berbuah lara. Entah sudah berapa peti aku benamkan kenangan tentangmu lalu menziarahinya dengan isak tangis kepedihan. Aku bercerita pada sahabatmu bahwa aku akan menunggumu hingga kutemui yang lebih baik darimu. Aku serius. Tapi kalau tidak kutemukan juga, apa iya aku harus sendiri selamanya? Apa iya setiap bertemu laki-laki lain aku harus selalu membandingkannya denganmu? Aku bilang aku menunggumu. Tapi aku juga tidak tahu entah kenapa belakangan ini aku berpikir mungkin kamu bahkan tak mau aku melakukan itu. Menduga-duga kalau menunggumu hanya akan mengganggumu.

Katanya seorang pejuang yang baik tahu kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus diam menyusun strategi. Aku pernah galau mati beku dalam sendu ketika mengenangmu. Aku pernah tak berpikir dua kali untuk menghubungimu duluan. Tapi aku yang sekarang seperti sudahan dengan galau dan jadi harus berpikir dua kali untuk menghubungimu duluan lagi.

Pun untuk sekedar mengucapkan ini.

Selamat merayakan hari kelahiran. Semoga bahagia selalu. Semoga yang terbaik selalu diberikanNya untukmu. Semoga tercapailah semua cita dan cinta. Semoga suatu waktu ketika semesta berkonspirasi lagi mempertemukan kita, kamu jadi dirimu yang seutuhnya. Tanpa resah. Selamat ulang tahun, jah..

-butet.

PS. Aku bukan meninggalkanmu, aku cuma sedang menggenggam hati sendirian untukku, agar jika suatu hari aku jatuh cinta lagi (padamu atau pada siapapun), aku mampu meneduhkan.