terbunuh pikiran

Sebuah sepeda motor tanpa lampu sein memotong lintasan sepeda fixie-ku. Hampir. Jika sepedaku lebih kencang beberapa km/jam saja, habis sudah. Untung kakiku masih sigap menahan kayuh. Membuat rem torpedo sepedaku bekerja tepat waktu.

Aku mengumpat dalam hati. Mengumpat pemilik sepeda motor kurang ajar itu, dan mengumpatmu, laki-laki brengsek yang membuatku menangis di sepanjang jalan ini.

Rasa-rasanya tangisku akan jadi lebih besar lagi jika aku lupa aku sedang berada di jalanan. Kutahan-tahan. Air yang tiba-tiba saja memenuhi pelupuk mataku membuat pandanganku kabur. Aku kesal. Aku marah. Entah pada siapa yang utama. Entah pada siapa harus kutujukan.

Kota ini kota kecil di pesisir pulau paling barat Sumatera. Kota kecil yang berusaha untuk menjadi besar. Tidak ada yang salah dengan kota ini sampai beberapa penduduk tampaknya gemar meninggalkan bekas kejadian perkara kecelakaan di jalan-jalan aspalnya. Gambar-gambar dari cat berwarna putih di jalanan yang berwarna abu. Aku belum pernah bertanya langsung pada pihak Kepolisian tentang fenomena ini, tapi sejauh pengamatanku, hampir setiap minggu ada saja gambar-gambar baru di jalanan. Gambar yang menunjukkan bekas kecelakaan lalu lintas. Kadang lokasi-lokasi tertentu tampak menjadi tempat favorit kecelakaan sangking terlalu banyaknya gambar. Menjadi lokasi angker yang dibicarakan banyak orang. Dan menjadi beban tersendiri untukku ketika harus bersepeda sendirian di jalanan kota kecil ini. Aku takut juga. Tidak mau jadi bagian dari gambar-gambar itu.

Tapi kali ini aku harus bersepeda sendirian. Tanpa dia yang biasanya selalu ada menemaniku. Biasanya ada dia yang menuntunku ketika akan berbelok atau menyeberang jalan. Biasanya ada dia yang menjagaku dari belakang. Biasanya ada dia yang selalu mampu memberiku rasa aman. Kali ini tidak. Dia tidak ada.

Kukayuh sepedaku perlahan. Hati-hati kutelusuri jalanan. Langit tampak cerah. Sore yang hangat untuk menghabiskan waktu. Sementara di telingaku lagu-lagu dari album kedua Homogenic masih mengalun. Mengisi dada kiriku yang rasanya  kosong sejak seminggu yang lalu. Sejak dia membiarkanku meninggalkannya, menyudahi hubungan kami yang sudah setahun.

Aku bingung. Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa? Apa yang ada di pikirannya hingga bisa dengan mudahnya membiarkanku pergi begitu saja?

Seminggu yang lalu kami bertengkar hebat. Perkaranya perempuan yang pernah menjadi tunangannya kembali menyapanya dengan hangat. Padahal perempuan itu yang menyudahi pertunangan itu. sekonyong-konyongnya dia hadir lagi, memberi kabar bahwa dirinya tak bisa ikhlas dengan apa yang aku dan lelakiku jalani. Lalu lelakiku gamang. Tak bisa membelaku. Tak bisa memberi penjelasan pada perempuan itu bahwa kami sedang tidak main-main dan sudah bukan waktunya lagi baginya untuk memperdulikan perasaan apapun yang pernah ada. Toh mereka sudah menjadi mantan.

“Nanti aku jelasin ke dia.” Kata lelakiku saat kuminta pembelaannya.

“Sekarang, Bang. Adek mau sekarang.”

“Nanti.”

“Nanti kapan? Apa susahnya sih dijelasin sekarang?”

“Kamu kok ngotot gitu?”

“Lah aku pacar abang. Perempuan manapun yang jadi aku bakal nuntut hal yang sama.”

“Iya nanti kan bakal dijelasin. Ya gak mesti sekarang juga. Ada waktunya nanti.”

Kalimat-kalimat berulang memenuhi percakapan kami waktu itu. Alot. Dia tetap pada pendiriannya untuk menunda penjelasan. Aku tetap memaksanya untuk memberi penjelasan saat itu juga. Hingga pada akhirnya aku memberinya pilihan, kalau dia tidak mau menjelaskannya saat itu juga, aku pergi. Dan dia bergeming. Aku pergi membawa luka. Hubungan yang kami banggakan sirna.

Sudah seminggu berlalu dan airmataku belum habis-habis juga untuknya. Terlalu perih. Aku sulit menerima kenyataan bahwa dia membiarkanku pergi meninggalkannya, dia tidak menahanku, dia melepaskanku.

Pada titik ini aku berpikir lagi. Katanya, jika seorang perempuan ingin pergi meninggalkan lelakinya, secinta apapun lelaki itu padanya, dia akan membiarkan. Sebab menurut laki-laki untuk apa dia menahan kepergian perempuan yang sudah tidak bahagia lagi bersamanya. Padahal perempuan mana yang tidak ingin dikejar. Entahlah, tapi aku berharap dia menahanku. Aku berharap dia mengejarku dan tidak membiarkanku pergi. Tapi tidak.

Aku juga kecewa karena tidak dibelanya. Aku benci kenapa dia harus memilih menjaga perasaan perempuan itu daripada menjaga perasaanku. Apa yang ada di pikirannya? Aku harusnya sabar dan menunggu kapanpun waktu yang dia rasa tepat untuk menjelaskan ke perempuan itu? Hah! Kenapa harus aku yang berkorban?

Aku patah hati sendirian.

Lagi-lagi airmataku menggenang. Kutahan-tahan lagi. Pandanganku kabur. Mataku panas dan berat. Rasanya pelupuk mataku sudah tidak kuat lagi menahan genangannya. Beberapa tetes jatuh. Cepat-cepat kuseka. Jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Debu dan daun-daun kering beterbangan.

Apa aku yang salah? Apa aku harusnya sabar dulu dengan apa yang dia lakukan? Menunggunya memilih waktu yang tepat untuk memberi penjelasan. Menerima kegamangannya dengan keikhlasan. Membuatnya yakin dengan kebersamaan kami hingga dia akan semakin mudah mengusir mantannya dari pikiran. Memberinya bahagia dan rasa nyaman.

Apa aku harus sebegitunya berkorban?

Kalau lelakiku menjaga perasaan perempuan itu, sementara aku harus menjaga pula perasaannya, yang menjaga perasaanku siapa?

Kepalaku penuh tanda tanya. Perasaanku penuh kecewa. Sementara pandanganku makin kabur karena airmata. Semakin aku memikirkan apa yang tengah aku alami, semakin perih perasaanku, semakin deras airmataku.

Jalanan masih ramai. Lagu-lagu Homogenic masih memenuhi telinga. Aku hanyut dibawa perasaan. Memikirkan kenyataan. Dari arah berlawanan sebuah truk tampak melaju kencang. Di depannya ada segerombolan pemuda menaiki sepeda motor dengan santai. Kupikir truk itu akan memotong lintasan mereka. Tapi lebar jalan pun sepertinya tidak memungkinkan. Belum lagi selesai aku memikirkan bagaimana mungkin truk itu bisa menyalip segerombolan pemuda di jalan yang tidak terlalu lebar, suara teriakan memekik memberi peringatan.

Sepedaku dihantam dengan keras. Lalu semuanya gelap.


menu

Sunday morning rain is falling.
Jalanan di luar basah. Udara lembab. Sepi. Sisa-sisa hujan tadi pagi masih terlalu menguasai suasana siang ini. That’s my favourite weather actually. Kalau saja tidak ada sejengkal lambung yang memaksa untuk diisi, melengkung di balik selimut adalah satu-satunya hal yang paling membahagiakan saat ini.
Rumah kosong. Kamar-kamar single di sekelilingku tampak tak berpenghuni. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di luar rumah pada hari libur, kan? Mungkin dari belasan orang yang menyewa kamar-kamar di rumah besar milik pengusaha karet asal timur ini, hanya aku yang betah berlama-lama di kamar jika off dari kantor. Bukan karena kamarku yang paling nyaman, tapi nyamannya aku ya demikian.
Well, I’m looking for food. Kukendarai skuter merahku. Bukan vespa klasik impian. Ini tak ubahnya seperti motor skutermatik milik orang-orang kebanyakan. Jalanan kosong. Isi kepalaku juga. Hati? Jangan tanya. Disana semua kekosongan ini bermula.
Tujuan motorku sebuah warung makan cepat saji. Yang ada di benakku cuma seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung. Ada yang lebih kuinginkan sebenarnya, tahu isi goreng dengan sambel cuka mirip kuah mpekmpek di warung lain lainnya. Letaknya sekitar dua kilometer dari warung makan tempat ayam goreng tepung tersebut.
Mendapatkan seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung tidak membutuhkan waktu yang lama. Segera setelah mendapatkannya, kunyalakan lagi motorku. Namun urung kukendarai karena handphone disakuku berdering. Satu-satunya kesayanganku memanggil. Enggan kuangkat, tapi akhirnya aku menyerah juga.
“Halo.”
“Akhirnya diangkat juga.”
Bola mataku berputar.
“Kenapa?”
“Masih ngambek ya?”
“Menurut kamu?”
Kudengar helaan napas di seberang sana.
“Udah makan?”
“Memangnya kamu peduli?”
“Aku baca timeline katanya kamu kepengenan tahu isi di Tiptop. Jadi mau kesana? Biasanya sekitar jam dua baru selesai digoreng.”
“Kamu udah bisa mutusin milih siapa?”
“Sayang, plis..”
“Gak usah ngomong sayang! Aku gak butuh. Aku cuma mau kamu milih. Kamu konsisten dengan pilihan kamu. Udah. Cukup. Itu doang.”
“Kita gak mesti ngebahas ini lagi sekarang kan? Come on, aku-“
“Jangan pernah hubungin aku lagi sampe kamu bisa milih.”
Kuselesaikan pembicaraan itu sepihak. Setelah menarik napas panjang dan dalam, kumatikan handphone, perlahan roda skuterku berputar.
Jalanan lengang. Kukendarai skuterku perlahan. Dengan tujuan warung satu-satunya di kota ini yang menyediakan tahu isi goreng dengan sambel yang spesial. Sudah sejak berminggu-minggu yang lalu tahu goreng itu kuidamkan. Karena kesibukan kantor, keengganan keluar dari kamar kosan, atau lebih seringnya karena kehabisan, keinginanku belum terpuaskan. Semalam kuceritakan keinginan itu di twitter. Sebenarnya aku tidak berharap dia tahu, laki-laki dengan mata cokelat itu harusnya tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Tahu goreng itu tak seberapa dibandingkan dengan keinginanku tentangnya. Tentang kami. Aku hanya ingin kepastian darinya.
Tepat saat kuparkir skuter di depan warung, handphone-ku berbunyi. Kali ini pesan masuk.

Aku tidak tau bagaimana lagi menjelaskan ini semua padamu.
Aku membutuhkanmu, tapi aku belum bisa melepaskannya.
Bisakah sedikit saja kamu bersabar? Sedikit lagi saja, sayang.
Demi kita. Kumohon.

Aku butuh beberapa detik untuk menahan amarahku. Kutarik napas dan kuhembuskan lagi. Berkali-kali. Halaman parkir warung ini sepi. Kenapa hari ini begitu lengang? Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menghangatkan atau paling tidak mengalihkan kekacauan perasaanku? Dengan langkah gontai kumasuki warung berasitektur tradisional Jawa ini. Sepintas kulirik jam tua di salah satu sisi ruangan. Dua jam lagi menuju pukul dua. Sekelebat perasaan khawatir melintas. Tapi kuhiraukan.
“Mbak, saya mau tahu isi goreng. Dua porsi. Dibungkus ya, Mbak”
“Maaf, Mbak. Tahu isinya baru mau digoreng.”
“Ogitu. Masih lama?”
“Hmm. Mungkin sekitar jam dua baru jadi, Mbak.”
Damn it. Kenapa perkataan lelaki yang ingin sekali kubenci harus terbukti benar?
“Maaf ya, Mbak. Atau mau nyoba menu lain, Mbak? Ada menu baru, martabak kerang, lagi promo juga, Mbak. Beli satu porsi, gratis satu risoles.”
Kerang makanan kesukaanku. Martabak kerang terdengar menarik. Muncul sedikit perasaan ingin membeli, tapi tak jadi. Bukan itu yang benar-benar kuinginkan. Aku hanya ingin tahu isi goreng. Aku menggeleng lunglai.
Aku tak pernah sabar menunggu. Apalagi di saat suasana dan perasaanku sedang tidak nyaman. Kuputuskan mengendarai skuterku pulang. Sepanjang jalan kupikirkan satu hal yang benar-benar semakin membuat perasaanku kacau.
Mungkinkah bagi laki-laki kesayanganku itu, aku hanya martabak kerang, dan perempuan yang diketahui banyak orang sebagai kekasihnya itu adalah tahu isi goreng? Kalau memang aku yang diinginkannya, dia tak perlu menungguku bersabar seperti ini. Aku hanya ingin kepastian. Aku lelah jadi selingkuhan. Kalau memang aku yang diinginkannya, dia harusnya memilihku dengan mudah. Mungkin baginya aku memang hanya martabak kerang, kalau nanti tahu isi goreng tidak bisa dimiliki, maka aku akan dipilih. Bukan karena dia benar-benar ingin. Tapi karena yang diinginkannya tak bisa dia miliki.
Semenyedihkan itukah aku?
Jalanan masih basah. Sebentar lagi pipiku turut basah. Sisa-sisa hujan tadi pagi mengabur bersama perasaan resah.
'from we heart it'


i’m temporarily broken

Hujan menjadi-jadi di luar. Kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi mengisi hening di antara kita. Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menahanku pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau paling tahu bagaimana caranya menciptakan hening. Sementara aku paling bisa membangun dinding. Kombinasi keduanya dalam beberapa saat lagi akan membuat sejarah. Sejarah penting pada hidupku mungkin, entah kalau buatmu.

Ah, kau kesayangan yang kubenci. Apa perlu kujelaskan dengan detail padamu? Ini bukan perkara cemburu. Ini lebih karena aku tersesat dalam labirin permainanmu pada perasaanku. Kalau kautanya mauku apa, aku mau kau jauhi perempuan itu, bicarakan dengan hangat rencana-rencana manis kita, lalu jatuh cinta segila-gilanya. Aku mau kau dan aku selamanya. Sesederhana itu.

Tapi kau membuat ini menjadi rumit.

Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk memelukku sekali lagi dan melarangku untuk pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau kesayangan yang pernah jadi satu-satunya tujuan. Apa perlu kujelaskan detail padamu? Kita sudah berjalan sejauh ini, cobaan yang kita hadapi tak sedikit, dan tak ada yang menjadi masalah hingga kau membagi hatimu untuk perempuan itu. Kesetiaanku kauhadiahi ini?

Hujan semakin menjadi-jadi di luar. Kubayangkan jika saat ini juga aku pergi, kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi akan mampu menyembunyikan tangisku.

Selama ini mungkin aku hanya tahu bagaimana cara mencintaimu, tanpa tahu bagaimana membahagiakanmu. Apa kau bahagia bersamaku? Kalau iya, harusnya kau tidak membiarkanku pergi.

Entah apa rencana Tuhan. Dia biarkan aku jatuh padamu terlalu dalam lalu menghempasku pada kenyataan seperti ini. Mungkin jika lain kali jatuh hati, aku harus mengajak Tuhan ikut serta. Aku tak ingin mencari lagi, biar Dia saja yang tentukan. Toh semuanya sudah diaturNya, kan?

Tapi sebelum aku benar-benar pergi, apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menggenggam tanganku dan melarangku untuk pergi, menjanjikan kau akan berubah –meski untuk itu kau tidak harus terlalu keras memaksanya–, dan berkata kita akan baik-baik saja. Sedikit saja. Ada?

Jika memang harus pergi, aku pergi.

Hujan reda. Kukayuh sepedaku dengan sesak di dada. Sepanjang jalan banjir airmata.


jeda

Jeda memberikan kesempatan tumbuh dan berkembangnya suatu hubungan, lebih-lebih hubungan asmara. Namun, jarak yang begitu jauh terkadang justru memutuskan keterhubungan.

-Dewi Kharisma Michellia dalam Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Di titik ini aku mempermasalahkan ukuran. Seberapa jauh jeda yang bisa membuat kita kembali sebahagia awal jatuh cinta dulu?

Atau mungkin yang jadi masalah bukan ukuran jeda, tapi masing-masing dari aku dan kau yang mengatasnamakan kita lalu mengedepankan ego yang entah berujung kemana. Mungkin yang kita belum paham adalah cara membahasakan dan membaca perasaan. Bahwa sebenarnya jeda yang menyiksa ini untuk apa kalau sebenarnya kau dan aku masih saling cinta.

Buatku ini menyiksa. Entah kalau buatmu.

Sebab aku tahu, kalau bersamamu, semelelahkan apapun itu, akan lebih baik daripada saat aku menuliskan ini.


Diproteksi: :)

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


satir

1-

Apa yang sedang kauusahakan, ketika kaumeninggalkan dia-meminta dia meninggalkanmu, lalu kini kaumencoba membuat dia meragu?

Lucu. Bagaimana mungkin kau bisa-bisanya tak mampu membiasakan diri tanpanya?

Sementara itu, dia sedang mengusahakan bahagianya yang baru. Sementara itu, jika kau terus begitu, jika suatu hari nanti dia meninggalkan perempuannya karenamu, apa kau tega berbahagia atas luka baru perempuan yang tak punya salah padamu?

Bahwa kadang harusnya tetap ada logika di kepala, walau sedang sejatuh-jatuhnya dalam cinta.

2-

Apa yang sedang kaupikirkan, ketika kau ditinggalkannya-meninggalkannya karena dia yang memintamu, lalu kini kau meragu?

Lucu. Bagaimana mungkin kau bisa-bisanya tak bisa menentukan hati mana yang kaupilih?

Sementara itu, aku jatuh terlalu dalam padamu. Sementara itu, jika kau terus begitu, bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kesayanganku meradang, apa mungkin aku tega mengubur dalam-dalam impianmu atas perempuan yang pernah menjadi kecintaanmu dulu?

Bahwa kadang demikianlah orang-orang di luar sana menyebutkan, bentuk mencintai paling besar adalah melepaskan orang yang dicintainya untuk memilih bahagianya sendiri.


Merayakan Kesedihan

Aku menumpahkan segelas penuh air di karpet kamarku sore tadi. Hal bodoh lainnya, pakaian yang kugantungkan di belakang kamar berjatuhan ke lantai ketika aku ingin menggantungkan celana coklatku. Berkali-kali kucoba menggantungkannya, jatuh lagi, lagi dan lagi. Kesal, kumasukkan saja semuanya ke kotak cucian. Aku juga tidak lapar seharian ini. Bekal tadi siang kubawa pulang dan berakhir di tempat cucian piring. Ohya, aku juga sempat menangis tadi di angkot yang mengantarkanku pulang. Itu tidak sengaja, paling beberapa tetes saja. Maklum, berulang-ulang lagu December-Caramu dan Mesin Penenun Hujan-Frau menguasai telingaku. Tapi tidak ada yang lebih memalukan dari itu semua selain barusan ini aku melihat betapa jeleknya wajahku saat menangis tersedu-sedu. Ya, aku melihat bayanganku di cermin. Terisak-isak. Mata merah dan berair dengan deras. Keringat di jidat yang membuat poni menjadi lepek dan basah. Hidung kembang kempis dan berlendir. Alis yang hampir menyatu. Lalu mimik muka yang mengibakan. Wajah basah airmata. Kasihan sekali aku yang di cermin itu.

Bukan tanpa alasan aku memandangi cermin. Aku ingin mengajak bayangan di cermin itu berdiskusi. Aku ingin tau, apa yang sebenarnya membuat dia begitu terisak-isak. Wajah menangis tak pernah lebih baik dari wajah yang tersenyum lebar. Aku ingin dia tertawa lebar lagi, tapi sendu rupanya menguasainya. Entah terbuat dari apa sendu ini, seolah-olah pasangan jiwa, merekat begitu erat padanya. Sendu membuat tawa menepis dan bersembunyi ketakutan. Tak ingin sendu berlama-lama disana, kuajak wajah murung itu berbicara.

Rupanya dia sedih bertengkar denganku. Sejak siang tadi memang dia kularang bersuara. Dia merasa kehilangan sesuatu yang notabene belum pernah benar-benar dimilikinya. Dia belum siap mendapati kenyataan bahwa yang dicintainya tak pernah sadar. Mencintai orang itu sebesar-besarnya, padahal orang itu tak cukup kuat menerima itu semua. Bayangan di cermin sudah pernah kunasehati, jangan begitu, tak baik. Bagaimana mungkin dia bisa mencintai orang yang tak ingin omongannya dipegang, bagaimana mungkin dia bisa mencintai orang yang seringkali berbeda pendapat dengannya, menguasainya dengan kecerdasan. Bah! Orang seperti itu kenapa digilai?! Kamu naïf, kubilang pada bayangan di cermin. Dan saat kunasehati begitu dia melengos berlalu. Sekarang, baru dia tau rasa.

Tadi siang, akhirnya dia mengetahui bahwa orang itu tidak pernah punya perasaan apapun untuknya. Nah sudah, kalau tadi siang dia kubiarkan bersuara, berantakan pekerjaan. Apa kata dunia tentang mata bengkak di siang hari, bukan?

Bayangan di cermin masih terisak. Kubujuk dia agar menyudahi tangisan. Dia berteriak lirih. Parau. Dasar bodoh! Kubilang, dia masih bisa berteman dengan orang itu. Semoga saja pacarnya tidak tukang cemburu buta, toh dia dan orang itu sudah berteman akrab. Punya pacar, bukan berarti membatasi pergaulan, kan? Berteman saja yang tulus dengannya, kubilang. Tapi bayangan di cermin semakin terisak. Well, aku mengerti, dia bilang ini tidak mudah. Aku tau. Aku tau. Aku ingat dulu dia juga pernah menangis kesal ketika pacar sahabatnya menuduh dia mencintai sahabatnya itu. Padahal ya memang mereka hanya bersahabat, tidak lebih. Aku tau bayangan di cermin tidak sekuat itu untuk menjahati hubungan orang lain. Kutanya, jadi sekarang kamu trauma? Nah, bayangan di cermin mengangguk.

Ketakutan mulai menyergapku tiba-tiba ketika bayangan di cermin memintaku mengingat semua yang dialaminya bersama orang itu. Tiba-tiba orang itu menguasai kami. Mengkukuhi batas, menjadikan kami kacau. Terlintas semua kebaikannya, pesonanya, kecerdasannya, prinsip hidupnya, caranya menguasai logika dan perasaan. Kami dibawa ke bayangan semu yang ternyata kosong. Benar-benar kosong. Hanya ada aku dan bayangan di cermin yang sesenggukan.

Kupikir, aku harus menyelamatkannya segera. Aku tidak yakin bisa melarang-larangnya bersuara lagi besok di kantor. Mungkin kekuatannya bisa lebih besar jika kutahan-tahan. Atau mungkin malah mati tak bersuara. Maka kubiarkan dia merayakan kesedihannya dengan sebebas-bebasnya. Kunyalakan lagu-lagu sedih kesukaannya dengan volume maksimal. Kusuruh bayangan orang itu menari-nari di pikirannya. Kutaburi kedukaannya dengan kalimat-kalimat pembunuh. Bahwa orang itu sudah bahagia sekarang, tidak ada lagi yang bayangan dalam cermin bisa lakukan. Bahwa kenyataan menjawab semua resahnya kini, orang itu sudah memilih. Dan pilihannya bukan bayangan dalam cermin. Bersuka citalah dalam kedukaanmu, kubilang. Dan sendu berpesta.

Di puncak perayaannya, bayangan dalam cermin kehabisan airmata. Dia minta padaku, tapi aku tak bisa. Dia memaksaku. Dia mengungkit kebodohan-kebodohanku tadi. Sekarang wajahnya tersenyum mengejek. Di detik ini aku malu. Cermin kubalikkan. Bayangan hilang. Lalu samar-samar gegap gempita kesedihan membumbung di langit-langit kamar.

Pertahananku runtuh.