Sore Ini Di Kereta

Lelah memang mendengarkan orang-orang berungkali menanyakan perihal yang sama. Ratusan orang mungkin. Bagaimana mungkin ratusan orang punya pertanyaan yang sama.
Lelah tapi setidaknya aku punya ratusan pertanyaan lain yang lebih melelahkan untuk ditemukan jawabannya. Yah, selelah-lelahnya ditanyai ratusan orang dengan pertanyaan yang sama, lebih melelahkan menemukan jawaban dari ratusan pertanyaan di kepala.
Yang satu ini, misalnya.
Engkau harus masuk ke kereta di jam empat sore. Orang-orang ramai. Berdesakan. Kau butuh sebuah kursi, demikian juga dengan mereka. Manusia diberi akal untuk menemukan kenyamanan versi masing-masing. Manusia juga diberi akal untuk berusaha. Tidak sedikit yang menghalalkan berbagai cara. Tidak patuh antri, misalnya. Apa yang harus kaulakukan?
Ada banyak pilihan jawaban. Mungkin berikut dua di antaranya.
Pilihan pertama, kau harus tetap antri. Bagaimanapun mereka mendesak dan mendorongmu dari berbagai sisi, kau harus mempertahankan posisi antrianmu. Bertengkar dengan yang mendorongmu? Tak masalah. Kau harus kuat. Kau harus ingat bahwa kau terbentuk dari sel juara yang memenangkan pertandingan besar masa lampau. Sekeras apapun orang-orang mendesakmu, kau harus bisa mempertahankan diri. Tetap tegak dan mendapatkan posisi terbaik di dalam kereta. Karena sekali lagi, kau sudah antri. Masa bodoh dengan keributan, kau bisa melawan karena kau benar.
Pilihan kedua, kau harus tetap antri. Jika mereka mendesak dan mendorongmu dari berbagai sisi, bersabar saja. Tak perlu melawan. Jika mereka tidak antri, mendorongmu, dan justru mendapatkan posisi nyaman di kereta, bersabar saja. Ikhlaskan saja. Yang penting kau berusaha tetap berjiwa ksatria. Antri. Kalau dapat tempat duduk ya syukur. Tidak dapat ya sudah. Tidak usah pikirkan orang-orang yang berlaku tidak adil sebab bukan urusanmu untuk mengadili mereka.
Apa yang akan kaulakukan?
Ini baru satu pertanyaan dengan banyak pilihan jawaban. Baru satu pertanyaan saja aku sudah bingung menentukan jawabannya. Kalau melawan dan membuat keributan, sebagian diriku merasa luka. Tak nyaman rasanya membuat orang lain tersinggung. Kalau diam dan banyak bersabar, sebagian diriku merasa terinjak. Bagaimana mungkin ketidakadilan bisa dengan mudah dibiarkan.
Di tengah kebingungan memikirkan jawaban untuk ratusan pertanyaan yang tak ada habis-habisnya di kepala, selalu saja perihal ini menengahiku. Bahwa ratusan orang yang selalu bertanya satu pertanyaan yang sama kepadaku harusnya kuberi saja satu jawaban.
Aku masih memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak melahirkan manusia-manusia yang tidak memberikan masalah untuk orang lain. Yah. Memikirkan bagaimana agar anak-anakku kelak tidak seperti kalian, ratusan orang dengan pertanyaan yang sama itu.


mengosongkan kotak perjalanan

Kepadamu,

Entah kita sudah bertemu atau belum, bagaimana rasanya perjalananmu menemukanku? Kuharap kamu bisa menikmatinya dengan baik. Meskipun menunggumu juga bukan cerita yang menyenangkan untuk kututurkan. Mungkin kita harus memulai cerita kita dengan membuang semua cerita itu.

Aku sedang berusaha membuang semua benda yang ada di kotak perjalananku, satu persatu. Kulakukan satu-persatu sebab untuk membuang semuanya sekaligus membuatku ketakutan pada ledakan psikologis yang mungkin mereka timbulkan. Kupikir, lebih baik kulakukan ini sendirian, tanpamu, agar nanti ketika kita bertemu tidak ada lagi benda-benda dari masa lalu yang masuk ke kotak baruku denganmu. Agar nanti ketika kita bertemu, kotak perjalananku benar-benar kosong dan seluruhnya diisi kamu.

Isi kotak perjalanan masing-masing aku dan kamu mungkin seberharga sejarah peradaban. Mungkin dengan itu, mudah bagi kita mengulang detik-detik bahagia yang pernah masing-masing kita punya. Tapi, seberharga apapun itu, kita sepakat saat itu sudah lewat. Menurutku, tak akan pernah ada kita di dalamnya. Jadi untuk apa tetap dijaga?

Kuharap kamu juga mulai mengosongkan kotak perjalananmu. Seperih apapun membuang isinya, lakukan saja. Karena nanti perihmu akan kubasuh bahagia. Aku tidak ingin kita seperti sepasang cangkir dengan isi yang belum lagi tandas. Apa mungkin dengan cerita baru, dahaga kita bisa lepas?

Jadi, sampai bertemu dengan kotak perjalanan yang sudah kosong, pujaanku.

Jaga hatimu baik-baik.

Menyuratimu dengan rindu,

Aku.

kotak perjalanan


selamat ulang tahun, jah..

I love(d) you. If I quit now, it doesn’t mean I don’t. I’m still but keep the real.

Orang bilang dewasa itu bukan hanya ukuran umur. Menua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan. Januari tahun ini aku dua puluh tiga tahun. Itu umur yang seharusnya tidak diwarnai kegalauan lagi kah? Hahaha. Galau itu bukan aib. Men-judge galau dengan sesuatu yang negatif tidak adil juga kupikir. Ada orang menggalau lalu dia jadi kreatif. Ada yang galau lalu dia jadi inspiratif. Ada masanya galau berporsi dan memang diinginkan dengan sadar. Mereka yang terlalu men-judge galau dengan tidak adilnya mungkin tidak banyak tahu bahwa galau tidak cuma sekadar perasaan yang tidak menentu saja. Galau itu bisa dihentikan sendiri oleh si empunya ketika dia memang benar-benar merasa sudah waktunya berhenti, kok. Jadi jangan memaksa. Biarkan saja mereka berkembang sesuai dengan kemampuan dan potensinya. Kalau mengganggu, abaikan. Kebanyakan dari penggalau sebenarnya tak butuh mereka yang menaruh perhatian pada penggalauan lalu mencibir diam-diam. Penggalau cuma butuh ruang.

Oke, maap. Salah fokus.. 😀

Dulu ketika aku masih anak-anak, sekali dua kali aku pernah mengidam-idamkan bersegera jadi dewasa. Cepat gede, istilahnya. Sekarang, udah umur dua puluh tiga, sering kepikiran juga lebih enak jadi anak-anak. Aku tidak tahu apa aku sudah dewasa atau tidak, tapi dunia makin hari makin melelahkan saja. Berbeda ketika aku masih di dunia anak. Orang dewasa itu terlalu banyak yang dipertimbangkan. Dipikirkan. Katanya dunia cinta milik orang dewasa, tapi coba lihat sebanyak apa orang dewasa yang sulit dibuatnya. Beda dengan dunia anak. Dulu, waktu masih kecil, gampang banget bilang suka sama teman, main rumah-rumahan, nikah-nikahan. Kalo naksir tinggal bilang. Kalo ditolak yah masih aja temenan.

Januari ini aku dua puluh tiga dan berharap aku dewasa ketika jatuh cinta. Aku ingin hidup dengan baik dan jatuh cinta dengan baik pula. Aku ingin ketika aku mengeja cinta, yang tereja yang indah-indah. Tidak ada luka. Tidak ada nestapa. Karena sesungguhnya cinta itu memang indah. Kalaupun aku pernah mengalami luka, itu bukan cinta, itu wujud lain yang menyertainya. Mungkin ego, gengsi, kagum, nafsu, ingin memiliki yang berlebihan, paksaan, atau perasaan apapun yang menyamar sebagai cinta.

Dan di Januari ini, aku mengenalmu.

Berharap mengenalmu adalah awal perjalanan membahagiakan. Berharap kali ini aku memulai dengan baik sesuatu yang akan dikenang. Kupikir aku jatuh cinta. Ya. Sepertinya aku jatuh cinta. Soalnya segala tentangmu menjadi indah. Semacam aku yang sendirian dan kemaleman menemukan teman pulang searah. Mungkin jika bukan kamu, tidak seperti itu kisahnya. Aku jatuh cinta padamu dengan sadar, tanpa sebab-tanpa alasan-tanpa kepastian ataupun perjanjian.

Tentang apa yang terjadi setelahnya aku berserah. Seperti katamu, kalau kita percaya Tuhan, kita harusnya tenang. Aku jatuh cinta padamu, iya, tapi kisah setelahnya aku tak bisa banyak bercerita. Akhirnya aku menemukan momen perpisahan yang mendewasakan. Ya, setelah berkali-kali jatuh cinta, setelah berkali-kali berantakan akibatnya, aku menemukan perasaan seperti ini. Merelakan.

Jangan pikir aku mudah melalui ini. Entah sudah berapa kali aku sadar rinduku untukmu selalu berbuah lara. Entah sudah berapa peti aku benamkan kenangan tentangmu lalu menziarahinya dengan isak tangis kepedihan. Aku bercerita pada sahabatmu bahwa aku akan menunggumu hingga kutemui yang lebih baik darimu. Aku serius. Tapi kalau tidak kutemukan juga, apa iya aku harus sendiri selamanya? Apa iya setiap bertemu laki-laki lain aku harus selalu membandingkannya denganmu? Aku bilang aku menunggumu. Tapi aku juga tidak tahu entah kenapa belakangan ini aku berpikir mungkin kamu bahkan tak mau aku melakukan itu. Menduga-duga kalau menunggumu hanya akan mengganggumu.

Katanya seorang pejuang yang baik tahu kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus diam menyusun strategi. Aku pernah galau mati beku dalam sendu ketika mengenangmu. Aku pernah tak berpikir dua kali untuk menghubungimu duluan. Tapi aku yang sekarang seperti sudahan dengan galau dan jadi harus berpikir dua kali untuk menghubungimu duluan lagi.

Pun untuk sekedar mengucapkan ini.

Selamat merayakan hari kelahiran. Semoga bahagia selalu. Semoga yang terbaik selalu diberikanNya untukmu. Semoga tercapailah semua cita dan cinta. Semoga suatu waktu ketika semesta berkonspirasi lagi mempertemukan kita, kamu jadi dirimu yang seutuhnya. Tanpa resah. Selamat ulang tahun, jah..

-butet.

PS. Aku bukan meninggalkanmu, aku cuma sedang menggenggam hati sendirian untukku, agar jika suatu hari aku jatuh cinta lagi (padamu atau pada siapapun), aku mampu meneduhkan.


pulang.

jatuh cintalah dengan baik. hiduplah yang baik. jadilah orang baik.
Baca entri selengkapnya »


terima kasih

suatu hari nanti, pasti akan ada seseorang yang berterimakasih kepadamu karena telah begitu mudah melepasku.

~Ruth Dian Kurniasari


paginya sari

Terbangun dari posisi udang menggelung, gadis manis berambut ikal tanpa gulung menggeliat tanpa dengung.

“hoaaaahhhhh..”

Sekali tegak, mimpi semalam hilang tanpa jejak. Sisa-sisa kecewa yang diendap manusia dihempas dengan keras. Lenyap. Sekarang Sari siap menyambut hari baru. Sari menyiapkan hati baru. Digulungnya rambut ke ubun-ubun, disambarnya handuk dan pakaian baru penuh senyum.

“selamat pagi, selamat datang tawa..” Baca entri selengkapnya »


untuk Tuhan

Tuhan, Baca entri selengkapnya »