kamis sore

kamis sore
kupu-kupu terbang seribu
langit cerah daun-daun terbang dari negeri antah berantah
menyapu rasa menyimpan mustika di dada
lalu segenap indera menantikan jumpa

kamis sore
selaras derap jantung berdetak
adakah hari akan cerah?
adakah pipi bersemu merah?
pelan-pelan waktu pulang pengabdi negara tiba
masa mengantar takdirnya

kamis sore
menunggu
menanti dengan degub tak tentu
hingga senja membuai semu
lalu langit runtuh
hamparannya tak lagi satu

kamis sore
seluruh semesta lebam biru.

Iklan

semakhluk

kita bukannya tidak lagi melihat bulan yang sama
bukan itu
tidak sesederhana itu
kita hanya tidak mau membicarakannya
tidak mau membahas bulan kita
hanya karena tak ingin jatuh cinta
sebab kau terlalu takut mendengar kidung baru
kidung yang belum lagi mulai berlagu
padahal kalau kau dengar dan kaumulai
kau akan tahu
kita semakhluk.

..yang namanya gelap itu ga ada,
yang ada itu kekurangan cahaya,
padahal kalau lampu di luar itu dinyalain,
atau bulan lebih diterangin,
mungkin kita bisa melihat pemandangan bagus. *)

*)potongan skenario dalam film kambing jantan.


malam dan kehilangan

pada suatu malam,
pada suatu jam tertentu-
seseorang merasa telah kehilangan sesuatu.

ia meraba dunia maya,
hampa-
ramai tapi tetap ada yang salah,
sebab tak ditemui yang dicarinya disana.

ia menatap langit tanpa bulan,
kelam-
terlalu gelap dan menyesakkan,
sebab tak ditemukannya nyaman disana.

saat diputuskannya untuk tidur saja,
sebagian dari dirinya menolak-
ada yang belum selesai.

resah-gelisah-lampu padam dan ngantuk tak jua datang.

pada suatu malam,
pada suatu jam tertentu-
seseorang merasa telah kehilangan sesuatu.

tak ada dering di ponsel untuk sms yang masuk,
tak ada suruhan tidur sebelum jam sepuluh.

malam luruh-
tangispun runtuh.


pulang?

purnama yang kesekian
telusuri perdu di sepanjang rinduku untukmu
apa kabar, sayang?

hujan sudah reda setelah mendera seharian
telaah arah sayup sayup dapati aku kuyup
tahukah, sayang?

aku masih disini
masih berpikir kaulah rumahku
masih berdiri di depan pintu hatimu
masihkah kau beku?
kuketuk lagi kuketuk lagi hingga kakiku tak menjejak bumi
oh beginikah rasanya menunggumu?

di luar dunia kita gadis-gadis memuja maya
menertawakanku yang hanya mengharap bahagia
sayang, sudah lama kita tak bercerita
berkisahlah. kudengar. kujabah maumu
sini biar kutebus lelahmu
sini biar kubasuh resahmu
hingga durjana hati minta ampun atas perih
aku ingin tetap disini karena kau yang kupilih

sayang,
malam renta bersama aku yang mungkin sebentar lagi mati rasa
biarkan aku pulang, sayang
penuh mohon lembut sapa aku meminta
bukakan pintu.


sebut saja aku perempuan

sebut saja aku perempuan, aku yang hatinya ditawan

sebut saja aku perempuan, sebab aku hanya punya rindu dan aksi bisu

sebut saja aku perempuan, sejentik godamu semerah delima pipiku

sebut saja aku perempuan, sekelebat sukamu segudang rasaku

sebut saja aku perempuan, irisan tipis kebencianmu luka menahun bagiku

sebut saja aku perempuan, tanpa pemikiran hanya perasaan

sebut saja aku perempuan, setegar apapun aku bertahan untuk tidak memperdulikanmu-sesungguhnya yang terjadi kamu tak pernah benarbenar pergi dari hidupku

entah sampai kapan

sebut saja aku perempuan, ujung dari semua ini kuakhiri dengan tangisan

ya, sebut saja aku perempuan, makhluk pengalir air di pipi.


maya

seperti bayangan hitam yang menari di kelopak mata yang terpejam menghadap cahaya,

aku menginginkanmu samar

aku serupa suluh yang memandang matahari

padamu terkumpul semua energi, bertumpu semua sinergi

kau siapa, aku papa

tergerus waktu sinarku hilang, terurus umat cahayamu matang

maka begitulah aku menaksir kamu diam diam

ya

menaksir, menimbang bayang

sebab ukuranku tak menjangkau duniamu

sebab realitaku tak mencapai logikamu


lirih

sepasang bayangan mengetuk pintuku tadi malam

mendapati aku yang meringkuk gamang

sementara di genteng licin ujung kaki gerimis menyeka muram

dingin

seisi ruang kosong

aku sudah berkali bilang, hatiku terlalu luas untuk kudiami sendirian

ini sudah malam kesekian

dan bukannya aku panik-aku tahu kau pasti pulang-

aku cuma tidak tahu kapan

lalu terbuat dari apakah impian?

sesuatu yang kugenggam ini-apakah terlalu berlebihan?

kalau memang iya, bilang pada Tuhan, kurangi itu dengan perlahan

jejakkan aku pada rendah dengan pelan

ajari aku bukan dengan siksaan kesepian

bukan karna aku benci malam dan ketukan

juga bukan karna ujung kaki gerimis terlalu ramai

tapi karna disini cuma ada aku

sendirian