Sore Ini Di Kereta

Lelah memang mendengarkan orang-orang berungkali menanyakan perihal yang sama. Ratusan orang mungkin. Bagaimana mungkin ratusan orang punya pertanyaan yang sama.
Lelah tapi setidaknya aku punya ratusan pertanyaan lain yang lebih melelahkan untuk ditemukan jawabannya. Yah, selelah-lelahnya ditanyai ratusan orang dengan pertanyaan yang sama, lebih melelahkan menemukan jawaban dari ratusan pertanyaan di kepala.
Yang satu ini, misalnya.
Engkau harus masuk ke kereta di jam empat sore. Orang-orang ramai. Berdesakan. Kau butuh sebuah kursi, demikian juga dengan mereka. Manusia diberi akal untuk menemukan kenyamanan versi masing-masing. Manusia juga diberi akal untuk berusaha. Tidak sedikit yang menghalalkan berbagai cara. Tidak patuh antri, misalnya. Apa yang harus kaulakukan?
Ada banyak pilihan jawaban. Mungkin berikut dua di antaranya.
Pilihan pertama, kau harus tetap antri. Bagaimanapun mereka mendesak dan mendorongmu dari berbagai sisi, kau harus mempertahankan posisi antrianmu. Bertengkar dengan yang mendorongmu? Tak masalah. Kau harus kuat. Kau harus ingat bahwa kau terbentuk dari sel juara yang memenangkan pertandingan besar masa lampau. Sekeras apapun orang-orang mendesakmu, kau harus bisa mempertahankan diri. Tetap tegak dan mendapatkan posisi terbaik di dalam kereta. Karena sekali lagi, kau sudah antri. Masa bodoh dengan keributan, kau bisa melawan karena kau benar.
Pilihan kedua, kau harus tetap antri. Jika mereka mendesak dan mendorongmu dari berbagai sisi, bersabar saja. Tak perlu melawan. Jika mereka tidak antri, mendorongmu, dan justru mendapatkan posisi nyaman di kereta, bersabar saja. Ikhlaskan saja. Yang penting kau berusaha tetap berjiwa ksatria. Antri. Kalau dapat tempat duduk ya syukur. Tidak dapat ya sudah. Tidak usah pikirkan orang-orang yang berlaku tidak adil sebab bukan urusanmu untuk mengadili mereka.
Apa yang akan kaulakukan?
Ini baru satu pertanyaan dengan banyak pilihan jawaban. Baru satu pertanyaan saja aku sudah bingung menentukan jawabannya. Kalau melawan dan membuat keributan, sebagian diriku merasa luka. Tak nyaman rasanya membuat orang lain tersinggung. Kalau diam dan banyak bersabar, sebagian diriku merasa terinjak. Bagaimana mungkin ketidakadilan bisa dengan mudah dibiarkan.
Di tengah kebingungan memikirkan jawaban untuk ratusan pertanyaan yang tak ada habis-habisnya di kepala, selalu saja perihal ini menengahiku. Bahwa ratusan orang yang selalu bertanya satu pertanyaan yang sama kepadaku harusnya kuberi saja satu jawaban.
Aku masih memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak melahirkan manusia-manusia yang tidak memberikan masalah untuk orang lain. Yah. Memikirkan bagaimana agar anak-anakku kelak tidak seperti kalian, ratusan orang dengan pertanyaan yang sama itu.


terbunuh pikiran

Sebuah sepeda motor tanpa lampu sein memotong lintasan sepeda fixie-ku. Hampir. Jika sepedaku lebih kencang beberapa km/jam saja, habis sudah. Untung kakiku masih sigap menahan kayuh. Membuat rem torpedo sepedaku bekerja tepat waktu.

Aku mengumpat dalam hati. Mengumpat pemilik sepeda motor kurang ajar itu, dan mengumpatmu, laki-laki brengsek yang membuatku menangis di sepanjang jalan ini.

Rasa-rasanya tangisku akan jadi lebih besar lagi jika aku lupa aku sedang berada di jalanan. Kutahan-tahan. Air yang tiba-tiba saja memenuhi pelupuk mataku membuat pandanganku kabur. Aku kesal. Aku marah. Entah pada siapa yang utama. Entah pada siapa harus kutujukan.

Kota ini kota kecil di pesisir pulau paling barat Sumatera. Kota kecil yang berusaha untuk menjadi besar. Tidak ada yang salah dengan kota ini sampai beberapa penduduk tampaknya gemar meninggalkan bekas kejadian perkara kecelakaan di jalan-jalan aspalnya. Gambar-gambar dari cat berwarna putih di jalanan yang berwarna abu. Aku belum pernah bertanya langsung pada pihak Kepolisian tentang fenomena ini, tapi sejauh pengamatanku, hampir setiap minggu ada saja gambar-gambar baru di jalanan. Gambar yang menunjukkan bekas kecelakaan lalu lintas. Kadang lokasi-lokasi tertentu tampak menjadi tempat favorit kecelakaan sangking terlalu banyaknya gambar. Menjadi lokasi angker yang dibicarakan banyak orang. Dan menjadi beban tersendiri untukku ketika harus bersepeda sendirian di jalanan kota kecil ini. Aku takut juga. Tidak mau jadi bagian dari gambar-gambar itu.

Tapi kali ini aku harus bersepeda sendirian. Tanpa dia yang biasanya selalu ada menemaniku. Biasanya ada dia yang menuntunku ketika akan berbelok atau menyeberang jalan. Biasanya ada dia yang menjagaku dari belakang. Biasanya ada dia yang selalu mampu memberiku rasa aman. Kali ini tidak. Dia tidak ada.

Kukayuh sepedaku perlahan. Hati-hati kutelusuri jalanan. Langit tampak cerah. Sore yang hangat untuk menghabiskan waktu. Sementara di telingaku lagu-lagu dari album kedua Homogenic masih mengalun. Mengisi dada kiriku yang rasanya  kosong sejak seminggu yang lalu. Sejak dia membiarkanku meninggalkannya, menyudahi hubungan kami yang sudah setahun.

Aku bingung. Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa? Apa yang ada di pikirannya hingga bisa dengan mudahnya membiarkanku pergi begitu saja?

Seminggu yang lalu kami bertengkar hebat. Perkaranya perempuan yang pernah menjadi tunangannya kembali menyapanya dengan hangat. Padahal perempuan itu yang menyudahi pertunangan itu. sekonyong-konyongnya dia hadir lagi, memberi kabar bahwa dirinya tak bisa ikhlas dengan apa yang aku dan lelakiku jalani. Lalu lelakiku gamang. Tak bisa membelaku. Tak bisa memberi penjelasan pada perempuan itu bahwa kami sedang tidak main-main dan sudah bukan waktunya lagi baginya untuk memperdulikan perasaan apapun yang pernah ada. Toh mereka sudah menjadi mantan.

“Nanti aku jelasin ke dia.” Kata lelakiku saat kuminta pembelaannya.

“Sekarang, Bang. Adek mau sekarang.”

“Nanti.”

“Nanti kapan? Apa susahnya sih dijelasin sekarang?”

“Kamu kok ngotot gitu?”

“Lah aku pacar abang. Perempuan manapun yang jadi aku bakal nuntut hal yang sama.”

“Iya nanti kan bakal dijelasin. Ya gak mesti sekarang juga. Ada waktunya nanti.”

Kalimat-kalimat berulang memenuhi percakapan kami waktu itu. Alot. Dia tetap pada pendiriannya untuk menunda penjelasan. Aku tetap memaksanya untuk memberi penjelasan saat itu juga. Hingga pada akhirnya aku memberinya pilihan, kalau dia tidak mau menjelaskannya saat itu juga, aku pergi. Dan dia bergeming. Aku pergi membawa luka. Hubungan yang kami banggakan sirna.

Sudah seminggu berlalu dan airmataku belum habis-habis juga untuknya. Terlalu perih. Aku sulit menerima kenyataan bahwa dia membiarkanku pergi meninggalkannya, dia tidak menahanku, dia melepaskanku.

Pada titik ini aku berpikir lagi. Katanya, jika seorang perempuan ingin pergi meninggalkan lelakinya, secinta apapun lelaki itu padanya, dia akan membiarkan. Sebab menurut laki-laki untuk apa dia menahan kepergian perempuan yang sudah tidak bahagia lagi bersamanya. Padahal perempuan mana yang tidak ingin dikejar. Entahlah, tapi aku berharap dia menahanku. Aku berharap dia mengejarku dan tidak membiarkanku pergi. Tapi tidak.

Aku juga kecewa karena tidak dibelanya. Aku benci kenapa dia harus memilih menjaga perasaan perempuan itu daripada menjaga perasaanku. Apa yang ada di pikirannya? Aku harusnya sabar dan menunggu kapanpun waktu yang dia rasa tepat untuk menjelaskan ke perempuan itu? Hah! Kenapa harus aku yang berkorban?

Aku patah hati sendirian.

Lagi-lagi airmataku menggenang. Kutahan-tahan lagi. Pandanganku kabur. Mataku panas dan berat. Rasanya pelupuk mataku sudah tidak kuat lagi menahan genangannya. Beberapa tetes jatuh. Cepat-cepat kuseka. Jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Debu dan daun-daun kering beterbangan.

Apa aku yang salah? Apa aku harusnya sabar dulu dengan apa yang dia lakukan? Menunggunya memilih waktu yang tepat untuk memberi penjelasan. Menerima kegamangannya dengan keikhlasan. Membuatnya yakin dengan kebersamaan kami hingga dia akan semakin mudah mengusir mantannya dari pikiran. Memberinya bahagia dan rasa nyaman.

Apa aku harus sebegitunya berkorban?

Kalau lelakiku menjaga perasaan perempuan itu, sementara aku harus menjaga pula perasaannya, yang menjaga perasaanku siapa?

Kepalaku penuh tanda tanya. Perasaanku penuh kecewa. Sementara pandanganku makin kabur karena airmata. Semakin aku memikirkan apa yang tengah aku alami, semakin perih perasaanku, semakin deras airmataku.

Jalanan masih ramai. Lagu-lagu Homogenic masih memenuhi telinga. Aku hanyut dibawa perasaan. Memikirkan kenyataan. Dari arah berlawanan sebuah truk tampak melaju kencang. Di depannya ada segerombolan pemuda menaiki sepeda motor dengan santai. Kupikir truk itu akan memotong lintasan mereka. Tapi lebar jalan pun sepertinya tidak memungkinkan. Belum lagi selesai aku memikirkan bagaimana mungkin truk itu bisa menyalip segerombolan pemuda di jalan yang tidak terlalu lebar, suara teriakan memekik memberi peringatan.

Sepedaku dihantam dengan keras. Lalu semuanya gelap.


menu

Sunday morning rain is falling.
Jalanan di luar basah. Udara lembab. Sepi. Sisa-sisa hujan tadi pagi masih terlalu menguasai suasana siang ini. That’s my favourite weather actually. Kalau saja tidak ada sejengkal lambung yang memaksa untuk diisi, melengkung di balik selimut adalah satu-satunya hal yang paling membahagiakan saat ini.
Rumah kosong. Kamar-kamar single di sekelilingku tampak tak berpenghuni. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di luar rumah pada hari libur, kan? Mungkin dari belasan orang yang menyewa kamar-kamar di rumah besar milik pengusaha karet asal timur ini, hanya aku yang betah berlama-lama di kamar jika off dari kantor. Bukan karena kamarku yang paling nyaman, tapi nyamannya aku ya demikian.
Well, I’m looking for food. Kukendarai skuter merahku. Bukan vespa klasik impian. Ini tak ubahnya seperti motor skutermatik milik orang-orang kebanyakan. Jalanan kosong. Isi kepalaku juga. Hati? Jangan tanya. Disana semua kekosongan ini bermula.
Tujuan motorku sebuah warung makan cepat saji. Yang ada di benakku cuma seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung. Ada yang lebih kuinginkan sebenarnya, tahu isi goreng dengan sambel cuka mirip kuah mpekmpek di warung lain lainnya. Letaknya sekitar dua kilometer dari warung makan tempat ayam goreng tepung tersebut.
Mendapatkan seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung tidak membutuhkan waktu yang lama. Segera setelah mendapatkannya, kunyalakan lagi motorku. Namun urung kukendarai karena handphone disakuku berdering. Satu-satunya kesayanganku memanggil. Enggan kuangkat, tapi akhirnya aku menyerah juga.
“Halo.”
“Akhirnya diangkat juga.”
Bola mataku berputar.
“Kenapa?”
“Masih ngambek ya?”
“Menurut kamu?”
Kudengar helaan napas di seberang sana.
“Udah makan?”
“Memangnya kamu peduli?”
“Aku baca timeline katanya kamu kepengenan tahu isi di Tiptop. Jadi mau kesana? Biasanya sekitar jam dua baru selesai digoreng.”
“Kamu udah bisa mutusin milih siapa?”
“Sayang, plis..”
“Gak usah ngomong sayang! Aku gak butuh. Aku cuma mau kamu milih. Kamu konsisten dengan pilihan kamu. Udah. Cukup. Itu doang.”
“Kita gak mesti ngebahas ini lagi sekarang kan? Come on, aku-“
“Jangan pernah hubungin aku lagi sampe kamu bisa milih.”
Kuselesaikan pembicaraan itu sepihak. Setelah menarik napas panjang dan dalam, kumatikan handphone, perlahan roda skuterku berputar.
Jalanan lengang. Kukendarai skuterku perlahan. Dengan tujuan warung satu-satunya di kota ini yang menyediakan tahu isi goreng dengan sambel yang spesial. Sudah sejak berminggu-minggu yang lalu tahu goreng itu kuidamkan. Karena kesibukan kantor, keengganan keluar dari kamar kosan, atau lebih seringnya karena kehabisan, keinginanku belum terpuaskan. Semalam kuceritakan keinginan itu di twitter. Sebenarnya aku tidak berharap dia tahu, laki-laki dengan mata cokelat itu harusnya tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Tahu goreng itu tak seberapa dibandingkan dengan keinginanku tentangnya. Tentang kami. Aku hanya ingin kepastian darinya.
Tepat saat kuparkir skuter di depan warung, handphone-ku berbunyi. Kali ini pesan masuk.

Aku tidak tau bagaimana lagi menjelaskan ini semua padamu.
Aku membutuhkanmu, tapi aku belum bisa melepaskannya.
Bisakah sedikit saja kamu bersabar? Sedikit lagi saja, sayang.
Demi kita. Kumohon.

Aku butuh beberapa detik untuk menahan amarahku. Kutarik napas dan kuhembuskan lagi. Berkali-kali. Halaman parkir warung ini sepi. Kenapa hari ini begitu lengang? Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menghangatkan atau paling tidak mengalihkan kekacauan perasaanku? Dengan langkah gontai kumasuki warung berasitektur tradisional Jawa ini. Sepintas kulirik jam tua di salah satu sisi ruangan. Dua jam lagi menuju pukul dua. Sekelebat perasaan khawatir melintas. Tapi kuhiraukan.
“Mbak, saya mau tahu isi goreng. Dua porsi. Dibungkus ya, Mbak”
“Maaf, Mbak. Tahu isinya baru mau digoreng.”
“Ogitu. Masih lama?”
“Hmm. Mungkin sekitar jam dua baru jadi, Mbak.”
Damn it. Kenapa perkataan lelaki yang ingin sekali kubenci harus terbukti benar?
“Maaf ya, Mbak. Atau mau nyoba menu lain, Mbak? Ada menu baru, martabak kerang, lagi promo juga, Mbak. Beli satu porsi, gratis satu risoles.”
Kerang makanan kesukaanku. Martabak kerang terdengar menarik. Muncul sedikit perasaan ingin membeli, tapi tak jadi. Bukan itu yang benar-benar kuinginkan. Aku hanya ingin tahu isi goreng. Aku menggeleng lunglai.
Aku tak pernah sabar menunggu. Apalagi di saat suasana dan perasaanku sedang tidak nyaman. Kuputuskan mengendarai skuterku pulang. Sepanjang jalan kupikirkan satu hal yang benar-benar semakin membuat perasaanku kacau.
Mungkinkah bagi laki-laki kesayanganku itu, aku hanya martabak kerang, dan perempuan yang diketahui banyak orang sebagai kekasihnya itu adalah tahu isi goreng? Kalau memang aku yang diinginkannya, dia tak perlu menungguku bersabar seperti ini. Aku hanya ingin kepastian. Aku lelah jadi selingkuhan. Kalau memang aku yang diinginkannya, dia harusnya memilihku dengan mudah. Mungkin baginya aku memang hanya martabak kerang, kalau nanti tahu isi goreng tidak bisa dimiliki, maka aku akan dipilih. Bukan karena dia benar-benar ingin. Tapi karena yang diinginkannya tak bisa dia miliki.
Semenyedihkan itukah aku?
Jalanan masih basah. Sebentar lagi pipiku turut basah. Sisa-sisa hujan tadi pagi mengabur bersama perasaan resah.
'from we heart it'


i’m temporarily broken

Hujan menjadi-jadi di luar. Kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi mengisi hening di antara kita. Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menahanku pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau paling tahu bagaimana caranya menciptakan hening. Sementara aku paling bisa membangun dinding. Kombinasi keduanya dalam beberapa saat lagi akan membuat sejarah. Sejarah penting pada hidupku mungkin, entah kalau buatmu.

Ah, kau kesayangan yang kubenci. Apa perlu kujelaskan dengan detail padamu? Ini bukan perkara cemburu. Ini lebih karena aku tersesat dalam labirin permainanmu pada perasaanku. Kalau kautanya mauku apa, aku mau kau jauhi perempuan itu, bicarakan dengan hangat rencana-rencana manis kita, lalu jatuh cinta segila-gilanya. Aku mau kau dan aku selamanya. Sesederhana itu.

Tapi kau membuat ini menjadi rumit.

Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk memelukku sekali lagi dan melarangku untuk pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau kesayangan yang pernah jadi satu-satunya tujuan. Apa perlu kujelaskan detail padamu? Kita sudah berjalan sejauh ini, cobaan yang kita hadapi tak sedikit, dan tak ada yang menjadi masalah hingga kau membagi hatimu untuk perempuan itu. Kesetiaanku kauhadiahi ini?

Hujan semakin menjadi-jadi di luar. Kubayangkan jika saat ini juga aku pergi, kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi akan mampu menyembunyikan tangisku.

Selama ini mungkin aku hanya tahu bagaimana cara mencintaimu, tanpa tahu bagaimana membahagiakanmu. Apa kau bahagia bersamaku? Kalau iya, harusnya kau tidak membiarkanku pergi.

Entah apa rencana Tuhan. Dia biarkan aku jatuh padamu terlalu dalam lalu menghempasku pada kenyataan seperti ini. Mungkin jika lain kali jatuh hati, aku harus mengajak Tuhan ikut serta. Aku tak ingin mencari lagi, biar Dia saja yang tentukan. Toh semuanya sudah diaturNya, kan?

Tapi sebelum aku benar-benar pergi, apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menggenggam tanganku dan melarangku untuk pergi, menjanjikan kau akan berubah –meski untuk itu kau tidak harus terlalu keras memaksanya–, dan berkata kita akan baik-baik saja. Sedikit saja. Ada?

Jika memang harus pergi, aku pergi.

Hujan reda. Kukayuh sepedaku dengan sesak di dada. Sepanjang jalan banjir airmata.


drama

Seorang perempuan yang terlalu mencintai seorang lelaki yang tidak pernah bisa menjanjikan masa depan apapun kepadanya, pada akhirnya akan menjadi manusia nomor satu yang paling membenci lelaki itu. Dan ketika suatu hari lelaki tersebut memulai hubungan dengan perempuan baru, mungkin perempuan yang terlalu cinta itu akan menjadikan perempuan baru tersebut sebagai perempuan yang paling dibencinya di dunia.
Perihal benci dan cinta yang tak ada habis-habisnya.
Kasihan si perempuan yang terlalu cinta. Cinta tak dapat, benci membuncah, membuat ketidaknyamanan dimana-mana, dan pada akhirnya menjadi drama yang membosankan. Seakan-akan perempuan baru mencuri cintanya. Seakan-akan sang lelaki menduakan cintanya. Padahal tidak pernah ada janji apapun untuknya. Drama dimulai.
Popcorn berterbangan di udara.

s e l a m a t m e n y a k s i k a n!


tentang peralihan ‘nasi’ ke ‘mie’

Mungkin kadang nyaman saja tidak cukup untuk menjadi alasan dimilikinya hati. Demikian kusimpulkan. Dari tadi kucari-cari alasan untuk memenangkan egoku. Belum ketemu juga. Sementara aroma tubuhnya mengisi ruang penciumanku. Aku selalu suka bau tubuhnya. Berikut dengan mata teduhnya, pelukan hangatnya, wajah tenangnya, dan cerita-cerita bodohnya yang selalu mampu membuatku penuh gelak tawa saat bersamanya. Dia selalu mampu membuatku nyaman. Selalu sampai pada akhirnya beberapa menit yang lalu dia bilang dia kencan dengan perempuan lain minggu kemarin.

“Kamu naksir dia?”

“Engga. Emangnya ngajak cewek jalan pasti naksir yah? Dih!”

“Ntar cewek itu ngarep baru tahu rasa kamu.”

“Engga kok.”

“Tahu darimana kalo engga?”

“Kan kami ngobrol banyak. Ada beberapa hal yang diomongin, yang secara ga langsung kita sama-sama tahu kalo itu tuh kita.”

“Kalian sampe’ seintim itu?”

“Iya. Emang kenapa?”

“Emang dia cewek idaman kamu yah?”

“Engga juga sih.”

“Lah trus ngapain diajak kencan?”

“Ya gapapa. Emang kenapa sih? Gini loh. Aku kan suka nasi tuh. Tapi kan gapapa juga kalo sekali-kali aku jajan mie. Ada mie lezat di depan mata gitu yah sayang dong dilewatin. Ya kan?”

“Hih! Jahat.”

“Jahat gimana?”

“Ya jahat. Ntar kalo ceweknya ngarep, ternyata kamunya cuma nganggap dia mie doang, kan kasihan.”

“Kan aku udah bilang kalo dia ga bakal ngarep. Tipikal cowok yang dia suka tuh bukan yang kayak aku gitu loh.”

“Kalo emang bukan yang kayak kamu, ngapain dia mau diajakin kamu dong?”

“Mana aku tahu. Yang penting kita sama-sama senang. Ketawa-ketawa. Nonton film romantis. Makan. Ngobrol-ngobrol di taman. Have fun. Apa masalahnya sih, Nduk? Sewot banget.”

“Bukan sewot. Tapi kamu tuh jahat.”

“Yasalam, jahat di bagian mananya?”

“Kamu mikir ga kalo kamu ngabisin waktu sama mie mulu, ntar diam-diam ada nasi yang sakit hati, ada nasi yang ngerasa diduain.”

“Diduain gimana?”

“Ya diduain. Kamu kan sukanya nasi. Harusnya kamu konsisten nyari nasi. Bukan malah ngabisin waktu sama mie. Ntar nasi ga mau dekat lagi sama kamu. Soalnya nasi mikir kamu udah ga suka dia lagi.”

“Loh kok bisa jadi gitu?”

“Ya bisa dong. Makanya kamu mainan aja terus sana sama mie. Biar ga ada lagi nasi yang mau sama kamu! Dasar jahat.”

Aku tahu nada suaraku terlalu tinggi. Bukan mauku. Tiba-tiba saja rasanya seperti ingin marah. Tapi aku juga tidak tahu kenapa aku harus marah. Kulirik wajahnya diam-diam. Tidak kelihatan. Dia menunduk dan bergeming tanpa sepatah kata pun.

“Kamu marah? Jangan tiba-tiba diam gitu dong.”

“Engga kok.”

“Trus kenapa diam? Aku kan jadi ga enak gini..”

Kutatap wajahnya dalam-dalam. Dia resah sendiri dalam diamnya. Seperti berpikir terlalu rumit untuk menjawab pertanyaanku. Sesekali tatapan kami beradu lalu kemudian dia menunduk. Begitu berulang-ulang hingga dia menarik napas panjang dan menatapku dengan lekat.

“Aku masih suka nasi. Masih nunggu nasi. Masih ngarep nasi. Kamu kan tahu, Nduk, bagiku nasi itu cuma kamu. Tapi aku juga ga mau maksa kamu. Kamu sendiri juga ga suka kan, kalo kita ngebahas perasaanku lagi. Kalo emang kamu ga mau sama aku, kenapa aku ga boleh beralih ke mie?”

Giliran aku yang tercekat. Aku masih tak punya jawaban. Lama-lama diam meruangi kami setelahnya. Terlalu lama.


menyelamatkan hati

Kupikir, keterlaluan juga jadi aku. Aku menjadikanmu sesosok lelaki yang jahat dan tidak berprikemanusiaan. Seperti tokoh-tokoh antagonis di film-film drama romantis. Membicarakanmu seperti kau benar-benar tak punya hati. Dengan segala yang kau lakukan, dengan segala yang kuceritakan, kita menjadi tokoh fiksi di kuping dan mata orang-orang. Dan aku disebut mereka sebagai korban.

Baiklah. Keterlaluan memang aku. Aku selama ini terlalu sibuk dengan perasaanku kepadamu. Seperti yang kaubilang, love is just a fantasy. Ya. Aku berfantasi. Aku sibuk dengan kegilaanku kepadamu. Memendam perasaan lalu terjebak oleh hatiku sendiri. Aku terlalu sibuk merangkai semua peristiwa yang terjadi di antara kita untuk kemudian menjadi kisah yang membenarkan harapanku. Kurangkai sesukaku, sebaik-baiknya menurutku, hanya agar semakin besar hatiku. Sedemikian baiknya hingga kadang terlalu sering membenarkan apa yang kuharapkan.

Keterlaluannya jadi aku. Aku terlalu sibuk meresahkan perasaan dengan segala terkaan. Aku menghubungkan banyak hal untuk menjawab semua tanyaku yang selalu tentangmu. Ekspetasiku bertunas, mimpiku rimbun. Hingga tidak tahu mana ekspetasi, mana yang fantasi. Hal-hal kecil yang kaulakukan untukku menjadi sesuatu yang spesial. Bahkan mungkin hal-hal yang kaulakukan dan menurut orang-orang itu buruk untukku. Seperti tidak pernah ada yang salah. Kau menujuku dan aku memang menunggumu. Begitulah.

Jadi, disinilah aku. Di ujung gang rumahmu. Di tanganku ada sekantong apel dan sebotol susu coklat. Dua hal kesukaanku dan kupikir mungkin memang penting untuk kau tahu. Kudengar kau sakit. Untuk bertanya langsung padamu aku tak berani. Sudah lama kita tidak berkomunikasi.

“aku di ujung gang rumahmu, ga usah beresin kamar, aku mau mampir sebentar.”

Delivered.

Dengan kualitas komunikasi kita yang memburuk akhir-akhir ini, sesungguhnya melangkahkan kaki ke rumahmu bukanlah hal yang mudah. Aku tahu kau selalu baik. Aku tahu dengan semua hal dalam ruang dan waktu yang sudah kita lewati, kuakui mungkin dengan sedikit fantasiku, kita tidak sesederhana berteman. Kau terlalu baik untuk peran teman. Sementara itu, perasaanku juga berharap padamu dengan keterlaluan.

Kita pernah tertawa bersama. Dan kau selalu baik padaku. Jadi, meskipun kita sudah lama tak bicara, mengunjungimu bukan kesalahan kan?

“mas, di rumah kan?”

Pending.

Jadi, disinilah aku. Di depan pintu rumahmu. Kukirimkan beberapa sms lagi. Dan lagi-lagi belum terkirim. Lalu kuhubungi nomormu, operator telponmu bilang panggilanku dialihkan. Berulang-ulang kucoba dan masih sama. Beruntungnya sms-ku yang pertama. Kau baca?

Mungkin kau ingin aku membencimu kali ini. Mungkin kau hanya ingin menyadarkanku, biar aku tahu bahwa kau tidak sedang menujuku. Dan yang terjadi selama ini, bukanlah kau yang sedang menujuku, tapi ekspetasiku membuatku berfantasi begitu. Seolah-olah.

Sekantong apel dan sebotol susu coklat buatmu kutitipkan di asisten rumahmu. Aku memang harus memperbaiki sesuatu. Dan tenang, kau takkan kubenci hanya karena hal ini. Mungkin, di antara kita ada yang salah dengan kemampuan membagi dan merespon peran. Akan kuperbaiki bagianku. Kalau kaumau, kau perbaiki bagianmu. Hingga tidak perlu ada kerikuhan di antara kita suatu waktu. Sebab kau baik, kita memulai dengan baik, dan tak ada yang salah dengan simpul yang tak sebaik ekspetasi.

“mas, aku ngga nunggu. tenang, aku berhenti dan aku baik2 aja. jangan sakit2 lagi yah..”

Pending.

Aku hanya perlu menata ulang hati.

we speak again
but the sound wasn’t good
we were all in agreement
in agreement about most things
we’ll do better next time
this is a pretty good beginning

sigur ros – agaetis byurjun (english lyrics)