i’m temporarily broken

Hujan menjadi-jadi di luar. Kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi mengisi hening di antara kita. Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menahanku pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau paling tahu bagaimana caranya menciptakan hening. Sementara aku paling bisa membangun dinding. Kombinasi keduanya dalam beberapa saat lagi akan membuat sejarah. Sejarah penting pada hidupku mungkin, entah kalau buatmu.

Ah, kau kesayangan yang kubenci. Apa perlu kujelaskan dengan detail padamu? Ini bukan perkara cemburu. Ini lebih karena aku tersesat dalam labirin permainanmu pada perasaanku. Kalau kautanya mauku apa, aku mau kau jauhi perempuan itu, bicarakan dengan hangat rencana-rencana manis kita, lalu jatuh cinta segila-gilanya. Aku mau kau dan aku selamanya. Sesederhana itu.

Tapi kau membuat ini menjadi rumit.

Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk memelukku sekali lagi dan melarangku untuk pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau kesayangan yang pernah jadi satu-satunya tujuan. Apa perlu kujelaskan detail padamu? Kita sudah berjalan sejauh ini, cobaan yang kita hadapi tak sedikit, dan tak ada yang menjadi masalah hingga kau membagi hatimu untuk perempuan itu. Kesetiaanku kauhadiahi ini?

Hujan semakin menjadi-jadi di luar. Kubayangkan jika saat ini juga aku pergi, kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi akan mampu menyembunyikan tangisku.

Selama ini mungkin aku hanya tahu bagaimana cara mencintaimu, tanpa tahu bagaimana membahagiakanmu. Apa kau bahagia bersamaku? Kalau iya, harusnya kau tidak membiarkanku pergi.

Entah apa rencana Tuhan. Dia biarkan aku jatuh padamu terlalu dalam lalu menghempasku pada kenyataan seperti ini. Mungkin jika lain kali jatuh hati, aku harus mengajak Tuhan ikut serta. Aku tak ingin mencari lagi, biar Dia saja yang tentukan. Toh semuanya sudah diaturNya, kan?

Tapi sebelum aku benar-benar pergi, apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menggenggam tanganku dan melarangku untuk pergi, menjanjikan kau akan berubah –meski untuk itu kau tidak harus terlalu keras memaksanya–, dan berkata kita akan baik-baik saja. Sedikit saja. Ada?

Jika memang harus pergi, aku pergi.

Hujan reda. Kukayuh sepedaku dengan sesak di dada. Sepanjang jalan banjir airmata.

Iklan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s