Sore Ini Di Kereta

Lelah memang mendengarkan orang-orang berungkali menanyakan perihal yang sama. Ratusan orang mungkin. Bagaimana mungkin ratusan orang punya pertanyaan yang sama.
Lelah tapi setidaknya aku punya ratusan pertanyaan lain yang lebih melelahkan untuk ditemukan jawabannya. Yah, selelah-lelahnya ditanyai ratusan orang dengan pertanyaan yang sama, lebih melelahkan menemukan jawaban dari ratusan pertanyaan di kepala.
Yang satu ini, misalnya.
Engkau harus masuk ke kereta di jam empat sore. Orang-orang ramai. Berdesakan. Kau butuh sebuah kursi, demikian juga dengan mereka. Manusia diberi akal untuk menemukan kenyamanan versi masing-masing. Manusia juga diberi akal untuk berusaha. Tidak sedikit yang menghalalkan berbagai cara. Tidak patuh antri, misalnya. Apa yang harus kaulakukan?
Ada banyak pilihan jawaban. Mungkin berikut dua di antaranya.
Pilihan pertama, kau harus tetap antri. Bagaimanapun mereka mendesak dan mendorongmu dari berbagai sisi, kau harus mempertahankan posisi antrianmu. Bertengkar dengan yang mendorongmu? Tak masalah. Kau harus kuat. Kau harus ingat bahwa kau terbentuk dari sel juara yang memenangkan pertandingan besar masa lampau. Sekeras apapun orang-orang mendesakmu, kau harus bisa mempertahankan diri. Tetap tegak dan mendapatkan posisi terbaik di dalam kereta. Karena sekali lagi, kau sudah antri. Masa bodoh dengan keributan, kau bisa melawan karena kau benar.
Pilihan kedua, kau harus tetap antri. Jika mereka mendesak dan mendorongmu dari berbagai sisi, bersabar saja. Tak perlu melawan. Jika mereka tidak antri, mendorongmu, dan justru mendapatkan posisi nyaman di kereta, bersabar saja. Ikhlaskan saja. Yang penting kau berusaha tetap berjiwa ksatria. Antri. Kalau dapat tempat duduk ya syukur. Tidak dapat ya sudah. Tidak usah pikirkan orang-orang yang berlaku tidak adil sebab bukan urusanmu untuk mengadili mereka.
Apa yang akan kaulakukan?
Ini baru satu pertanyaan dengan banyak pilihan jawaban. Baru satu pertanyaan saja aku sudah bingung menentukan jawabannya. Kalau melawan dan membuat keributan, sebagian diriku merasa luka. Tak nyaman rasanya membuat orang lain tersinggung. Kalau diam dan banyak bersabar, sebagian diriku merasa terinjak. Bagaimana mungkin ketidakadilan bisa dengan mudah dibiarkan.
Di tengah kebingungan memikirkan jawaban untuk ratusan pertanyaan yang tak ada habis-habisnya di kepala, selalu saja perihal ini menengahiku. Bahwa ratusan orang yang selalu bertanya satu pertanyaan yang sama kepadaku harusnya kuberi saja satu jawaban.
Aku masih memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak melahirkan manusia-manusia yang tidak memberikan masalah untuk orang lain. Yah. Memikirkan bagaimana agar anak-anakku kelak tidak seperti kalian, ratusan orang dengan pertanyaan yang sama itu.

Iklan

7/24

Ini bukan tulisan tentang review film baru artis cantik nan cerdas favorit saya, Dian Sastro. Meskipun tulisan ini terinspirasi setelah saya menontonnya. Film yang disutradarai Fajar Nugros itu sangat saya rekomendasikan ditonton bersama pasangan hidup, suami-istri. Filmnya menginspirasi. Serius! Ini buktinya saya terinspirasi untuk menulis setelah bertahun-tahun ‘libur’.

*ambil kemoceng dan bersihin debu di blog ini sambil nyanyi lagunya Tulus-Teman Hidup*

Well, hello people! Kalian yang biasa nongkrongin blog saya, apa kabar semuanya?

EH GUE UDAH NIKAH LOH! UDAH PADA TAU KAN?

*sumringah*

Alhamdulillah, setelah penantian yang tidak mudah, menelaah dengan teliti isi hati, akhirnya saya tahu bahwa hidup saya sempurna bersama Hizrawan Dodi. Dia lelaki luar biasa yang mematahkan semua teori saya tentang cinta. Jangan tanya kenapa, saya tidak punya alasan untuk menjawabnya.

Sebelum bertemu dia, kategori suami idaman saya serupa daftar list panjang bergulung-gulung seperti struk belanja. Harus indie, anti-mainstream, suka film dan fotografi, ngerti isi pikiran saya yang kadang saya juga ga ngerti isinya apa, blablabla.. Kalau kalian ketemu suami saya jangan berharap bisa nanya apa saya masih suka niru-niru Sari atau tidak, White Shoes and The Couples Company saja suami saya tidak tahu.

Dulu muluk sekali saya bermimpi punya suami seorang seniman asal Bandung atau Bali, saya pikir alangkah bahagianya setengah jiwa saya yang tidak serius dengan statistik berlabuh di dunia khayalan. Pada akhirnya saya bertemu dia, bisa jatuh cinta, dan menikah. Dan dia adalah seorang statistisi juga. Sekantor pula!

What? Sekantor, Za? Ketemu terus dong? Ga bosan apa?

Tonton 7/24 jam deh. Jadi ceritanya, Dian Sastro yang akuntan workaholic punya suami sutradara Lukman Sardi. Mereka berdua sama-sama sibuk dan jarang ketemu, untungnya komunikasi mereka berkualitas banget. Jadinya harmonis deh. Sampai akhirnya mereka berdua jatuh sakit dan barengan diopname. Selama 7 hari 24 jam mereka hidup berdekatan dan muncullah konflik. Dan seterusnya nonton aja di bioskop yah. Kalau bukan kita yang mengapresiasi film-film bagus Indonesia, siapa lagi?

Berbeda dengan kami. Dalam 7 hari 24 jam saya hidup bersama dia, suami saya. Dari bangun tidur, di kantor, balik ke rumah, tidur lagi, hampir seluruhnya aktivitas saya lakukan bersamanya. Sudah lebih dua bulan ini begitu. Tapi segala puji bagi Allah, belum pernah sedikitpun terlintas di pikiran saya untuk sengaja jauh dari dia. Sepelik apapun konflik yang sedang kami perdebatkan. Sekesal apapun perasaan saya saat dia berulah. Saya malah susah sendiri kalau harus terpaksa jauh dari dia. Kayak sekarang ini misalnya, saya perjalanan dinas sendiri, ngapa-ngapain ga ada dia.. 😦

Lebay kamu, Za! Mungkin iya. Saya yang dulu terbiasa sendiri dan mandiri, berubah jadi manja kayak begini. Salah ya? Tapi gimana dong, sama dia tuh saya udah ngerasa lengkaaaaap banget.

Hidup yang saya jalani bersama dia saya ibaratkan sebuah rumah. Kemanapun saya pergi, saya pasti akan pulang kesana. Jika rusak, kami perbaiki sama-sama. Jika membosankan, kami ganti warna atau tambah pernak-pernik pemanis lainnya. Apapun agar selalu bisa merasa nyaman, kami lakukan. Dian Sastro bilang, the foundation of everything is family. Saya sama suami sepakat tentang itu. Kita sering diskusi tentang apapun lalu mencari sebab dan solusinya. Dia sering bilang, bahkan di Quran juga dibilang, urusin dulu hidupmu dan keluargamu, ga usah sibuk ngurusin yang lain kalo hidupmu sama keluargamu aja masih ga jelas. That’s it.

Ada yang bilang cinta itu fungsi jarak. Ada yang berpendapat wajar jatuh cinta kalau sering berdekatan. Tapi ada juga yang bilang jarak bisa menguji cinta dan perasaan. Ada yang berpendapat cinta mudah hilang jika jarak terlalu memisah. Tapi ada juga yang bilang terlalu dekat malah membuat cinta kehilangan maknanya. Apapun itu, menurut saya cinta tidak butuh teori. Kita cukup butuh komitmen pada satu hal, seumur hidup jatuh cinta hanya pada satu orang yang sama. Selamanya berjuang bersama. Tidak peduli jaraknya.

Siapapun bisa berteori, pada akhirnya kita sendiri yang menjalani. Menurut saya gitu, kalo kamu? Buruan nikah gih! 😉

DSC_1144


terbunuh pikiran

Sebuah sepeda motor tanpa lampu sein memotong lintasan sepeda fixie-ku. Hampir. Jika sepedaku lebih kencang beberapa km/jam saja, habis sudah. Untung kakiku masih sigap menahan kayuh. Membuat rem torpedo sepedaku bekerja tepat waktu.

Aku mengumpat dalam hati. Mengumpat pemilik sepeda motor kurang ajar itu, dan mengumpatmu, laki-laki brengsek yang membuatku menangis di sepanjang jalan ini.

Rasa-rasanya tangisku akan jadi lebih besar lagi jika aku lupa aku sedang berada di jalanan. Kutahan-tahan. Air yang tiba-tiba saja memenuhi pelupuk mataku membuat pandanganku kabur. Aku kesal. Aku marah. Entah pada siapa yang utama. Entah pada siapa harus kutujukan.

Kota ini kota kecil di pesisir pulau paling barat Sumatera. Kota kecil yang berusaha untuk menjadi besar. Tidak ada yang salah dengan kota ini sampai beberapa penduduk tampaknya gemar meninggalkan bekas kejadian perkara kecelakaan di jalan-jalan aspalnya. Gambar-gambar dari cat berwarna putih di jalanan yang berwarna abu. Aku belum pernah bertanya langsung pada pihak Kepolisian tentang fenomena ini, tapi sejauh pengamatanku, hampir setiap minggu ada saja gambar-gambar baru di jalanan. Gambar yang menunjukkan bekas kecelakaan lalu lintas. Kadang lokasi-lokasi tertentu tampak menjadi tempat favorit kecelakaan sangking terlalu banyaknya gambar. Menjadi lokasi angker yang dibicarakan banyak orang. Dan menjadi beban tersendiri untukku ketika harus bersepeda sendirian di jalanan kota kecil ini. Aku takut juga. Tidak mau jadi bagian dari gambar-gambar itu.

Tapi kali ini aku harus bersepeda sendirian. Tanpa dia yang biasanya selalu ada menemaniku. Biasanya ada dia yang menuntunku ketika akan berbelok atau menyeberang jalan. Biasanya ada dia yang menjagaku dari belakang. Biasanya ada dia yang selalu mampu memberiku rasa aman. Kali ini tidak. Dia tidak ada.

Kukayuh sepedaku perlahan. Hati-hati kutelusuri jalanan. Langit tampak cerah. Sore yang hangat untuk menghabiskan waktu. Sementara di telingaku lagu-lagu dari album kedua Homogenic masih mengalun. Mengisi dada kiriku yang rasanya  kosong sejak seminggu yang lalu. Sejak dia membiarkanku meninggalkannya, menyudahi hubungan kami yang sudah setahun.

Aku bingung. Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa? Apa yang ada di pikirannya hingga bisa dengan mudahnya membiarkanku pergi begitu saja?

Seminggu yang lalu kami bertengkar hebat. Perkaranya perempuan yang pernah menjadi tunangannya kembali menyapanya dengan hangat. Padahal perempuan itu yang menyudahi pertunangan itu. sekonyong-konyongnya dia hadir lagi, memberi kabar bahwa dirinya tak bisa ikhlas dengan apa yang aku dan lelakiku jalani. Lalu lelakiku gamang. Tak bisa membelaku. Tak bisa memberi penjelasan pada perempuan itu bahwa kami sedang tidak main-main dan sudah bukan waktunya lagi baginya untuk memperdulikan perasaan apapun yang pernah ada. Toh mereka sudah menjadi mantan.

“Nanti aku jelasin ke dia.” Kata lelakiku saat kuminta pembelaannya.

“Sekarang, Bang. Adek mau sekarang.”

“Nanti.”

“Nanti kapan? Apa susahnya sih dijelasin sekarang?”

“Kamu kok ngotot gitu?”

“Lah aku pacar abang. Perempuan manapun yang jadi aku bakal nuntut hal yang sama.”

“Iya nanti kan bakal dijelasin. Ya gak mesti sekarang juga. Ada waktunya nanti.”

Kalimat-kalimat berulang memenuhi percakapan kami waktu itu. Alot. Dia tetap pada pendiriannya untuk menunda penjelasan. Aku tetap memaksanya untuk memberi penjelasan saat itu juga. Hingga pada akhirnya aku memberinya pilihan, kalau dia tidak mau menjelaskannya saat itu juga, aku pergi. Dan dia bergeming. Aku pergi membawa luka. Hubungan yang kami banggakan sirna.

Sudah seminggu berlalu dan airmataku belum habis-habis juga untuknya. Terlalu perih. Aku sulit menerima kenyataan bahwa dia membiarkanku pergi meninggalkannya, dia tidak menahanku, dia melepaskanku.

Pada titik ini aku berpikir lagi. Katanya, jika seorang perempuan ingin pergi meninggalkan lelakinya, secinta apapun lelaki itu padanya, dia akan membiarkan. Sebab menurut laki-laki untuk apa dia menahan kepergian perempuan yang sudah tidak bahagia lagi bersamanya. Padahal perempuan mana yang tidak ingin dikejar. Entahlah, tapi aku berharap dia menahanku. Aku berharap dia mengejarku dan tidak membiarkanku pergi. Tapi tidak.

Aku juga kecewa karena tidak dibelanya. Aku benci kenapa dia harus memilih menjaga perasaan perempuan itu daripada menjaga perasaanku. Apa yang ada di pikirannya? Aku harusnya sabar dan menunggu kapanpun waktu yang dia rasa tepat untuk menjelaskan ke perempuan itu? Hah! Kenapa harus aku yang berkorban?

Aku patah hati sendirian.

Lagi-lagi airmataku menggenang. Kutahan-tahan lagi. Pandanganku kabur. Mataku panas dan berat. Rasanya pelupuk mataku sudah tidak kuat lagi menahan genangannya. Beberapa tetes jatuh. Cepat-cepat kuseka. Jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Debu dan daun-daun kering beterbangan.

Apa aku yang salah? Apa aku harusnya sabar dulu dengan apa yang dia lakukan? Menunggunya memilih waktu yang tepat untuk memberi penjelasan. Menerima kegamangannya dengan keikhlasan. Membuatnya yakin dengan kebersamaan kami hingga dia akan semakin mudah mengusir mantannya dari pikiran. Memberinya bahagia dan rasa nyaman.

Apa aku harus sebegitunya berkorban?

Kalau lelakiku menjaga perasaan perempuan itu, sementara aku harus menjaga pula perasaannya, yang menjaga perasaanku siapa?

Kepalaku penuh tanda tanya. Perasaanku penuh kecewa. Sementara pandanganku makin kabur karena airmata. Semakin aku memikirkan apa yang tengah aku alami, semakin perih perasaanku, semakin deras airmataku.

Jalanan masih ramai. Lagu-lagu Homogenic masih memenuhi telinga. Aku hanyut dibawa perasaan. Memikirkan kenyataan. Dari arah berlawanan sebuah truk tampak melaju kencang. Di depannya ada segerombolan pemuda menaiki sepeda motor dengan santai. Kupikir truk itu akan memotong lintasan mereka. Tapi lebar jalan pun sepertinya tidak memungkinkan. Belum lagi selesai aku memikirkan bagaimana mungkin truk itu bisa menyalip segerombolan pemuda di jalan yang tidak terlalu lebar, suara teriakan memekik memberi peringatan.

Sepedaku dihantam dengan keras. Lalu semuanya gelap.


dear ay @nels89

Hai, Ay.

Apa kabar?

Basa-basi macam apa aku barusan. Ish!

Tapi kupikir wajar kalau kutanya kabarmu, Ay. Aku mengabulkan apa yang dikata orang-orang. Perihal kesayangan yang sadar dirasakan setelah kehilangan. Iya. Kenapa tunggu kau jauh dulu baru bertanya kabar. Kenapa tunggu kau pindah ke Kalimantan dulu baru sadar kau adalah kesayangan.

Bagaimana rasanya hidup di Kalimantan?

Nias panas terus. Sudah lama tak turun hujan. Gerah. Kau tau kipas angin di kamar kita tak henti-hentinya berputar. Hanya gorden kamar yang tak lagi kubuka ketika malam. Kau taulah, aku paling takut sendirian. Jadi meskipun kamar rasanya pengap, gorden itu tak berani kusingkap. Aku masih sering terbangun tengah malam, Ay. Masih sering juga menangis tertahan. Bedanya tidak ada kau. Dan rasanya sangat tidak menyenangkan.

Ngomong-ngomong soal menangis, sejak kabar kepindahanmu semakin pasti, aku tidak pernah menangisi kepergianmu, kan? Kau harusnya memberikanku hadiah untuk itu. Tapi jangan deh Ay, aku ingin membuat pengakuan.

Di hari kedua puluh lima di bulan pertama tahun ini, pagi itu, aku terbangun dengan fakta koper-kopermu sudah tersusun rapi di depan mata. Hari itu kau memang harus benar-benar pergi. Bukannya aku tak sadar selama beberapa hari sebelumnya, aku menghitung mundur juga. Hanya saja aku takut perasaanku meledak. Kutahan-tahan di dalam dada. Pagi itu kita sarapan bersama, menghitung detik untuk mengantarkanmu ke bandara. Apa yang berkecamuk masih bisa kuredam. Kita masih bisa tertawa-tawa disana. Mengabadikan momen kepindahanmu di kamera. Hingga akhirnya pesawatmu datang juga. Di ruang tunggu itu kupeluk tubuhmu dengan erat. Baumu kuhirup untuk kuingat. Dan kaubuktikan sendiri, aku tak menangis kan? Tidak, sampai kau hilang di balik puluhan penumpang lainnya, berjalan dengan pasti ke pesawatmu. Di titik itu robohlah semua pertahananku.

Rasa-rasanya ketika menuliskan surat ini, airmataku ingin jatuh lagi.

Ternyata aku belum siap kautinggalkan, Ay.

Aku tau aku tak punya teman lagi di kamar. Tak punya teman sepertimu lagi di pulau ini. Tak punya satu-satunya manusia yang kukenal dekat bertahun-tahun lamanya. Tapi yang lebih menyedihkan lagi dari itu, aku tak sempat sadar, kenapa tunggu kau jauh dulu baru aku bertanya kabar. Iya. Kenapa tunggu kau jauh dulu, Ay.

Ay, maafkan semua salahku selama kita berbagi hidup di kamar ini ya. Maafkan ketidaksadaranku. Mungkin selama ini banyak ketidaksadaranku yang menyakiti hatimu. Membiarkanmu sendirian di kamar sementara aku pacaran, membuat kamar kita berantakan, mengganggu tidurmu dengan curhatan, apapun itu Ay, maafkan aku. Terima kasih untuk semuanya, Ay. Untuk apapun yang sudah kita lalui bersama. Untuk bahumu yang selalu ada kapanpun aku butuh, untuk tawamu yang selalu melengkapi gembiraku, untuk kenangan yang tak akan mungkin aku lupa. Semoga disana kau selalu dilingkupi bahagia, Ay. Kuharap, begitupun aku yang sendiri tanpamu disini.

Ini hari pertamamu masuk kantor kan, Ay? Semangat ya! Kalau ada yang macam-macam sama kau, bilang samaku. Ini serius.

Menyuratimu dengan rindu,

Aku.

P.S: kaka dede, kak bobo, kak nelly, didang, iin, sama bang cuun jadi tau kalo aku cengeng banget gara-gara kejadian di bandara kemaren itu, Ay. Huaaaaa…. T.T


menyurati diri sendiri

                                Gunungsitoli, kota yang digadang-gadangkan jadi ibukota provinsi, 1 Februari 2014

Hai Za,

Sekiranya surat ini kukirimkan padamu tepat di tanggal 16 Januari kemarin. Sekiranya pada tanggal itu program #30harimenulissuratcinta tahun ini dimulai. Sekiranya surat pertama jatuh di hari favoritmu. Ya, hari ulang tahunmu.

Tapi tak apalah ya, Za. Meski terlambat, kau pantas mendapatkan surat ini. Bukan hanya pantas, kau harus mendapatkan surat ini.

Selamat menikmati umur dua puluh lima, Za.

Semakin tahun semakin beda ya rasa perayaannya. Haha. Kau makin dewasa? Tak perlu dijawab, kau tahu aku benci membuatmu bertanya-tanya sendiri. Isi kepalamu terlalu penuh dengan tanda tanya. Dan aku benci harus melihatmu kebingungan dengan isi kepalamu sendiri.

Semua yang terbaik buatmu menjadi segala pengharapanku. Meski kita seringkali tidak tahu, yang terbaik itu yang seperti apa. Sementara kemauan dan kebutuhan kita tak ada habis-habisnya. Di luar sana orang-orang bicara takdir yang sampai saat ini kita masih meraba-raba seperti apa wujudnya.

Tapi meski begitu, kumohon padamu nikmatilah hidup. Sebaik dan seburuk apapun itu. Kau tidak pernah benar-benar sendiri, Za. Jangan takut, ada aku. Dan tidak ada yang lebih setia menemanimu selain aku. Bahkan di saat kau membenciku, mempertanyakan keberadaanku, aku tak pernah kemana-mana. Aku ada.

Tentang semua mimpimu, teruslah berusaha. Meski kadang meredup, tetap jaga api semangatmu. Karena tanpa mimpi-mimpimu itu, kau seringkali melupakanku. Padahal dengan siapa kau akan mewujudkannya jika tidak bersamaku? Begitupun tentang perasaanmu. Diskusi-diskusi kita yang panjang, yang seringkali tak bertemu kata sepakat itu, aku tahu yang kita butuhkan hanya waktu. Ketika kelelahan kita membutuhkan rumah, hati dan logika kita akan berdamai, saat itu kau tahu pada akhirnya perasaan bukanlah perihal terpenting.

Lebih sering memeluk dirimu ya, Za. Tidak ada yang lebih baik memeluk dirimu, selain dirimu sendiri. Kau tahu itu dengan persis.

Selamat ulang tahun.

mencintaimu dengan sungguh,

dirimu sendiri.


menu

Sunday morning rain is falling.
Jalanan di luar basah. Udara lembab. Sepi. Sisa-sisa hujan tadi pagi masih terlalu menguasai suasana siang ini. That’s my favourite weather actually. Kalau saja tidak ada sejengkal lambung yang memaksa untuk diisi, melengkung di balik selimut adalah satu-satunya hal yang paling membahagiakan saat ini.
Rumah kosong. Kamar-kamar single di sekelilingku tampak tak berpenghuni. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di luar rumah pada hari libur, kan? Mungkin dari belasan orang yang menyewa kamar-kamar di rumah besar milik pengusaha karet asal timur ini, hanya aku yang betah berlama-lama di kamar jika off dari kantor. Bukan karena kamarku yang paling nyaman, tapi nyamannya aku ya demikian.
Well, I’m looking for food. Kukendarai skuter merahku. Bukan vespa klasik impian. Ini tak ubahnya seperti motor skutermatik milik orang-orang kebanyakan. Jalanan kosong. Isi kepalaku juga. Hati? Jangan tanya. Disana semua kekosongan ini bermula.
Tujuan motorku sebuah warung makan cepat saji. Yang ada di benakku cuma seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung. Ada yang lebih kuinginkan sebenarnya, tahu isi goreng dengan sambel cuka mirip kuah mpekmpek di warung lain lainnya. Letaknya sekitar dua kilometer dari warung makan tempat ayam goreng tepung tersebut.
Mendapatkan seporsi nasi putih dan dua potong ayam goreng tepung tidak membutuhkan waktu yang lama. Segera setelah mendapatkannya, kunyalakan lagi motorku. Namun urung kukendarai karena handphone disakuku berdering. Satu-satunya kesayanganku memanggil. Enggan kuangkat, tapi akhirnya aku menyerah juga.
“Halo.”
“Akhirnya diangkat juga.”
Bola mataku berputar.
“Kenapa?”
“Masih ngambek ya?”
“Menurut kamu?”
Kudengar helaan napas di seberang sana.
“Udah makan?”
“Memangnya kamu peduli?”
“Aku baca timeline katanya kamu kepengenan tahu isi di Tiptop. Jadi mau kesana? Biasanya sekitar jam dua baru selesai digoreng.”
“Kamu udah bisa mutusin milih siapa?”
“Sayang, plis..”
“Gak usah ngomong sayang! Aku gak butuh. Aku cuma mau kamu milih. Kamu konsisten dengan pilihan kamu. Udah. Cukup. Itu doang.”
“Kita gak mesti ngebahas ini lagi sekarang kan? Come on, aku-“
“Jangan pernah hubungin aku lagi sampe kamu bisa milih.”
Kuselesaikan pembicaraan itu sepihak. Setelah menarik napas panjang dan dalam, kumatikan handphone, perlahan roda skuterku berputar.
Jalanan lengang. Kukendarai skuterku perlahan. Dengan tujuan warung satu-satunya di kota ini yang menyediakan tahu isi goreng dengan sambel yang spesial. Sudah sejak berminggu-minggu yang lalu tahu goreng itu kuidamkan. Karena kesibukan kantor, keengganan keluar dari kamar kosan, atau lebih seringnya karena kehabisan, keinginanku belum terpuaskan. Semalam kuceritakan keinginan itu di twitter. Sebenarnya aku tidak berharap dia tahu, laki-laki dengan mata cokelat itu harusnya tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Tahu goreng itu tak seberapa dibandingkan dengan keinginanku tentangnya. Tentang kami. Aku hanya ingin kepastian darinya.
Tepat saat kuparkir skuter di depan warung, handphone-ku berbunyi. Kali ini pesan masuk.

Aku tidak tau bagaimana lagi menjelaskan ini semua padamu.
Aku membutuhkanmu, tapi aku belum bisa melepaskannya.
Bisakah sedikit saja kamu bersabar? Sedikit lagi saja, sayang.
Demi kita. Kumohon.

Aku butuh beberapa detik untuk menahan amarahku. Kutarik napas dan kuhembuskan lagi. Berkali-kali. Halaman parkir warung ini sepi. Kenapa hari ini begitu lengang? Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menghangatkan atau paling tidak mengalihkan kekacauan perasaanku? Dengan langkah gontai kumasuki warung berasitektur tradisional Jawa ini. Sepintas kulirik jam tua di salah satu sisi ruangan. Dua jam lagi menuju pukul dua. Sekelebat perasaan khawatir melintas. Tapi kuhiraukan.
“Mbak, saya mau tahu isi goreng. Dua porsi. Dibungkus ya, Mbak”
“Maaf, Mbak. Tahu isinya baru mau digoreng.”
“Ogitu. Masih lama?”
“Hmm. Mungkin sekitar jam dua baru jadi, Mbak.”
Damn it. Kenapa perkataan lelaki yang ingin sekali kubenci harus terbukti benar?
“Maaf ya, Mbak. Atau mau nyoba menu lain, Mbak? Ada menu baru, martabak kerang, lagi promo juga, Mbak. Beli satu porsi, gratis satu risoles.”
Kerang makanan kesukaanku. Martabak kerang terdengar menarik. Muncul sedikit perasaan ingin membeli, tapi tak jadi. Bukan itu yang benar-benar kuinginkan. Aku hanya ingin tahu isi goreng. Aku menggeleng lunglai.
Aku tak pernah sabar menunggu. Apalagi di saat suasana dan perasaanku sedang tidak nyaman. Kuputuskan mengendarai skuterku pulang. Sepanjang jalan kupikirkan satu hal yang benar-benar semakin membuat perasaanku kacau.
Mungkinkah bagi laki-laki kesayanganku itu, aku hanya martabak kerang, dan perempuan yang diketahui banyak orang sebagai kekasihnya itu adalah tahu isi goreng? Kalau memang aku yang diinginkannya, dia tak perlu menungguku bersabar seperti ini. Aku hanya ingin kepastian. Aku lelah jadi selingkuhan. Kalau memang aku yang diinginkannya, dia harusnya memilihku dengan mudah. Mungkin baginya aku memang hanya martabak kerang, kalau nanti tahu isi goreng tidak bisa dimiliki, maka aku akan dipilih. Bukan karena dia benar-benar ingin. Tapi karena yang diinginkannya tak bisa dia miliki.
Semenyedihkan itukah aku?
Jalanan masih basah. Sebentar lagi pipiku turut basah. Sisa-sisa hujan tadi pagi mengabur bersama perasaan resah.
'from we heart it'


i’m temporarily broken

Hujan menjadi-jadi di luar. Kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi mengisi hening di antara kita. Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menahanku pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau paling tahu bagaimana caranya menciptakan hening. Sementara aku paling bisa membangun dinding. Kombinasi keduanya dalam beberapa saat lagi akan membuat sejarah. Sejarah penting pada hidupku mungkin, entah kalau buatmu.

Ah, kau kesayangan yang kubenci. Apa perlu kujelaskan dengan detail padamu? Ini bukan perkara cemburu. Ini lebih karena aku tersesat dalam labirin permainanmu pada perasaanku. Kalau kautanya mauku apa, aku mau kau jauhi perempuan itu, bicarakan dengan hangat rencana-rencana manis kita, lalu jatuh cinta segila-gilanya. Aku mau kau dan aku selamanya. Sesederhana itu.

Tapi kau membuat ini menjadi rumit.

Apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk memelukku sekali lagi dan melarangku untuk pergi. Sedikit saja. Ada?

Kau kesayangan yang pernah jadi satu-satunya tujuan. Apa perlu kujelaskan detail padamu? Kita sudah berjalan sejauh ini, cobaan yang kita hadapi tak sedikit, dan tak ada yang menjadi masalah hingga kau membagi hatimu untuk perempuan itu. Kesetiaanku kauhadiahi ini?

Hujan semakin menjadi-jadi di luar. Kubayangkan jika saat ini juga aku pergi, kaki-kakinya yang jatuh dari langit pada apapun yang ditemuinya di bumi akan mampu menyembunyikan tangisku.

Selama ini mungkin aku hanya tahu bagaimana cara mencintaimu, tanpa tahu bagaimana membahagiakanmu. Apa kau bahagia bersamaku? Kalau iya, harusnya kau tidak membiarkanku pergi.

Entah apa rencana Tuhan. Dia biarkan aku jatuh padamu terlalu dalam lalu menghempasku pada kenyataan seperti ini. Mungkin jika lain kali jatuh hati, aku harus mengajak Tuhan ikut serta. Aku tak ingin mencari lagi, biar Dia saja yang tentukan. Toh semuanya sudah diaturNya, kan?

Tapi sebelum aku benar-benar pergi, apa yang ada di pikiranmu? Aku ingin tahu. Ada tidak, sedikit saja, keinginanmu untuk menggenggam tanganku dan melarangku untuk pergi, menjanjikan kau akan berubah –meski untuk itu kau tidak harus terlalu keras memaksanya–, dan berkata kita akan baik-baik saja. Sedikit saja. Ada?

Jika memang harus pergi, aku pergi.

Hujan reda. Kukayuh sepedaku dengan sesak di dada. Sepanjang jalan banjir airmata.